Home / News / Agus Fatoni, ada Bandara di Batas Sumsel – Lampung

Agus Fatoni, ada Bandara di Batas Sumsel – Lampung

Bandara Gatot Subroto di Way Kanan, Provinsi Lampung. (FOTO: Dok. Wikipedia)

KAKI BUKIT – Ada sebuah pangkalan udara (Lanud) militer yang letaknya dekat perbatasan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dengan Provinsi Lampung. Lanud tersebut sudah ada sejak lama, seja masa Orde Baru (Orba). Lanud tersebut bukan milik TNI AU melainkan milik TNI Angakatan Darat. Kini Lanud tersebut telah berkembang menjadi sebuah bandar udara (bandara).

Lanud tersebut bernama Gatot Subroto, adalah lapangan udara militer yang sudah ada sejak tahun 1979. Sejak saat itu sudah banyak pesawat militer datang dan pergi ke Lanud yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.

Kini Lanud militer tersebut telah menjadi bandar udara atau lapangan udara sipil dengan nama Bandar Udara (Bandara) Gatot Subroto. Masyarakat Kabupaten Way Kanan dan beberapa kabupaten lainnya yang saling bertetangga di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan sudah bisa menikmati konektivitas udara dari Bandara Gatot Subroto ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II di Palembang dan Bandara Raden Inten di Lampung, juga ke Jakarta.

Itu berarti bagi masyarakat yang bermukim pada daerah perbatasan Sumsel dan Lampung, konektivitas udara bukanlah sebuah barang mewah. Atau harus jauh ke Palembang dan Bandar Lampung lebih dulu untuk memanfaat konektivitas udara terbang dengan pesawat udara.

Sekitar lima tahun lalu, pada 6 April 2019 di Bandara Gatot Subroto mendarat perdana penerbangan pesawat komersil dari maskapai Citilink Indonesia QG 1090 jenis ATR 72-600 yang terbang dari Jakarta membawa Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Andika Perkasa.

Pesawat ini adalah pesawat komersial pertama yang mendarat di Bandara Gatot Subroto sekaligus menandakan Bandara Gatot Subroto bukan hanya Lanud melainkan bandara sipil dan komersial.


Menhub Budi Karya Sumadi dan KSAD Andika Perkasa pada peresmian penerbangan komersil di bandara Gatot Subroto pada 6 April 2019. (FOTO: https://dephub.go.id/)

Menurut Menhub saat itu, kehadiran Bandara Gatot Subroto dapat mendukung percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi, sejalan dengan tersedianya transportasi udara dari dan ke Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung serta kabupaten lainnya yang ada di Sumatera Selatan.

Budi menjelaskan Kabupaten Way Kanan di Lampung dan Kabupaten OKU Timur di Sumsel adalah daerah-daerah yang luar biasa. Bandara Gatot Subroto meng-capture kurang lebih tujuh kabupaten yang berada di daerah perbatasan Sumsel dan Lampung.

“Atas arahan Presiden, bandara ini panjang landasannya akan menjadi 2.400 meter supaya pesawat boeing 737 bisa mendarat. Bandara ini akan diperbesar, kemudian kita juga akan membuat kargonya lebih bagus”, kata Menhub.

Bandara Gatot Subroto saat ini memiliki fasilitas dengan landasan pacu (runway) sepanjang 2.100 m x 40 m, taxi way 100 m x 30 m, apron 200 m x 100 m dan terminal penumpang memiliki luas 300 m².

Menurut Budi Karya Sumadi yang kelahiran Palembang, melalui kerjasama pemanfataan bandara ini, diharapkan mampu meningkatkan sinergitas pelaksanaan tugas dan fungsi untuk mengoptimalkan sumber daya sehingga operasional penerbangan terselenggara dengan baik.

Anggaran Bandara

Kini pada awal 2024 dua pemerintah provinsi, Sumsel dan Lampung bersepakat mengaktifkan Bandara Gatot Subroto sebagai bandara komersil. Pada Jumat, 5 Januari 2024 telah digelar “Rapat Tindak Lanjut Terkait Pembahasan Pengoperasian dan Penganggaran Bandara Gatot Subroto” di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta.


Pj Gubernur Sumsel yang juga Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri memimpin “Rapat Tindak Lanjut Terkait Pembahasan Pengoperasian dan Penganggaran Bandara Gatot Subroto” di Kemendagri. (FOTO : Humas Pemprov Sumsel)

Rapat dipimpin Penjabat (Pj) Gubernur Sumsel yang juga Direktur Jendral (Dirjen) Bina Keuangan Daerah Kemendagri Agus Fatoni. Menurutnya, keberadaan Bandara Gatot Subroto sangat diperlukan oleh Provinsi Lampung dan Sumsel khususnya bagi OKU Raya meliputi Kabupaten OKU Timur, OKU, OKU Selatan, Kabupaten Way Kanan dan beberapa kabupaten lainnya di Lampung.

“Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah sepakat mengaktifkan Bandara Gatot Subroto sebagai bandara komersil. Pengaktifan bandara ini berdampak positif terhadap daerah sekitar mulai dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, pariwisata, interkoneksi wilayah kawasan, percepatan arus mobilitas barang dan jasa”, kata Fatoni.

Dirjen Bina Keuangan Daerah Agus Fatoni menjelaskan, “Kalau kita lihat sekilas Bandara Gatot Subroto ini sudah diresmikan dan juga pernah beroperasi pada tahun 2019 kemudian ada penerbangan saat itu. Namun saat ini tidak ada penerbangan lagi”.

Untuk aktivasi bandara di perbatasan Sumsel – Lampung ini menurut Fatoni, membutuhkan dukungan pemerintah daerah terhadap operasional bandara Gatot Subroto. Sebagai bukti dukungan tersebut, dilakukan penandatanganan nota kesepakatan bersama atau Memorandum of Understanding (MoU).

Pada kesempatan itu juga dilakukan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Bupati, para Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota se-Provinsi Sumsel dan dan Provinsi Lampung yang disaksikan Agus Fatoni selaku Pj Gubernur Sumsel sekaligus selaku Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri. “Ini sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah, baik yang ada di Sumsel dan Lampung”, kata Pj Gubernur Sumsel.

Setelah beroperasi, menurut Fatoni bandara ini akan melayani penerbangan dengan rute Gatot Subroto – Jakarta, Gatot Subroto – Lampung dan Gatot Subroto – Palembang.

Walau letak Bandara Gatot Subroto di Provinsi Lampunga yakni Kabupaten Way Kanan menurut Agus Fatoni, “Kalau untuk jarak, antara bandara Gatot Subroto dari Kabupaten OKU Timur sejauh 8 km, dari Kabupaten OKU Selatan sejauh 44 km dan dari Kabupaten OKU sejauh 48 km”, ujarnya.


Pj Gubernur Sumsel yang juga Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Agus Fatoni (kedua dari kiri) pada “Rapat Tindak Lanjut Terkait Pembahasan Pengoperasian dan Penganggaran Bandara Gatot Subroto”. (FOTO : Humas Pemprov Sumsel)

Berdasarkan komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan pengoperasian Bandara Gatot Subroto menjadi bandara komersil ada dua hal yang perlu dilakukan.

Pertama, komitmen untuk memastikan dukungan pemerintah daerah seperti penandatanganan MoU dan PKS-nya sudah ada. Kedua, dari sisi anggaran kedua provinsi yang telah dipersiapkan juga infrastruktur dan sarana prasarana yang mendukung.

Pada kesempatan tersebut Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya menilai pengoperasian bandara Gatot Subroto ini akan berdampak baik bagi wilayah sekitar. “Mudah-mudahan harapan baik kami ini akan terwujud”, katanya.

Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) OKU Selatan Rahmatullah menyatakan mendukung penuh pengaktifan penerbangan komersial Bandara Gatot Subroto. “Ini dikarenakan akan memberikan dampak yang baik bagi pariwisata OKU Selatan. Pengoperasian Bandara Gatot Subroto menjadi komersil sangat berdampak baik bagi daerah sekitar termasuk bagi Kabupaten OKU Selatan”, ujarnya.

Sebelumnya dari Bandara Gatot Subroto, telah ada penerbangan komersil maspakai Citilink, Lion Air dan Susi Air. Susi Air mulai beroperasi di Bandara Gatot Subroto sejak 30 November 2020 dengan jadwal penerbangan satu kali dalam seminggu yaitu pada Jumat dengan rute Bandara SMB II – Bandara Gatot Subroto dan Bandara Gatot Subroto – Bandara Raden Intan pulang pergi.

Konektivitas Udara

Bandara Gatot Subroto Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu bandara yang berawal dengan fungsi landasan udara kegiatan militer. Kemudian menjadi bandar udara sipil atau komersil dan dalam pelaksanaanya dilakukan penerapan KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) yang dikoordinir langsung oleh Kementerian Perhubungan, dibawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Bandara Gatot Subroro sebagai Lanud TNI AD dapat melayani pesawat jenis Hercules C 130. Kemudian dalam perkembangannya dapat digunakan sebagai salah satu sarana angkutan udara komersil atau sipil untuk melayani angkutan udara di wilayah yang jauh dari ibukota provinsi yaitu Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.


Penandatanganan MoU Aktivasi Bandara Gatot Subroto diantaranya dilakukan Pj Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Teddy Meilwanyah (kedua dari kiri). (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

Bandara Gatot Subroto berjarak sekitar 30 km dari Blambangan Umpu ibu kota Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung dan berjarak 13 km dari Kota Martapura ibu kota Kabupaten OKU Timur di Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam rapat di Kemendagri Pj Gubernur Sumsel mengatakan, “Pengaktifan bandara ini berdampak positif terhadap daerah sekitar mulai dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, pariwisata, interkoneksi wilayah kawasan, percepatan arus mobilitas barang dan jasa”.

Aktivasi Bandara Gatot Subroto adalah bagian dari pembangunan pada sektor transportasi yang merupakan sektor penting dalam suatu pembangunan daerah atau wilayah untuk mendukung konektivitas antar wilayah yang dapat membantu pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.

Menurut Zulman Haridan dalam penelitiannya berjudul “Dampak Rencana Operasi Pangkalan Udara Gatot Subroto Way Kanan Menjadi Bandar Udara Komersil Ditinjau Dari Aspek Spasial” (2022), transportasi memiliki fungsi sebagai penggerak dan pendorong serta menunjang pembangunan daerah.

Zulman menjelaskan bahwa permasalahan dalam infrastruktur sering kali berkaitan dengan kurangnya aksesibilitas dan konektivitas moda transportasi yang menyebabkan tidak meratanya pembangunan. Selain itu, kewenangan dalam pembangunan sutau infrastruktur trasnportasi juga sering menjadi kendala.

Salah satu bentuk rencana dalam pengembangan infrastruktur transportasi udara itu adalah pendayagunaan Bandara Gatot Subroto sebagai pangkalan udara TNI AD menjadi bandara komersial atau sipil untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas yang cepat, nyaman, dan ekonomis. “Pendayagunaan Bandar udara Gatot Subroto sebagai bandara komersil ini akan membantu memudahkan sistem transportasi antar wilayah”, tulis Zulman Haridan.

Dari penelitiannya tersebut Zulman Haridan menyampaikan beberapa saran. Pertama, peningkatan fungsi pelayanan dan operasional Bandara Gatot Subroto untuk meningkatkan pelayanan bagi penumpang dengan tetap memperhatikan karakteristik fisik dan lingkungan pada wilayah bandara dan dapat mendukung kegiatan sosial ekonomi Kabupaten Way Kanan dan sekitarnya.

Kedua, penguatan peran dan fungsi Bandara Gatot Subroto oleh Pemerintah dalam rangka penguatan simpul transportasi dan konektivitas antar wilayah serta mengurangi ketimpangan wilayah dengan menghubungkan beberapa daerah di sekitarnya.

Ketiga, pemerintah pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dapat memberikan bantuan pembiayaan dalam rangka pengembangan Bandara Gatot Subroto untuk mendukung bandara perintis hingga menjadi pusat pertumbuhan baru yang memiliki multiplier effect.

Kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sumsel, Pemerintah Provinsi Lampung dan pemerintah kabupaten di sekitar Bandara Gatot Subroto dengan pemerintah melalui Kementerian Perhubungan tentu bisa mempercepat aktivasi bandara tersebut. (maspril aries)

Tagged: