Home / Eduaksi / Pertempuran 5 Hari 5 Malam dan Amnesia Sejarah

Pertempuran 5 Hari 5 Malam dan Amnesia Sejarah

Buku “Palagan Palembang Pertempuran Lima Hari Lima Malam Wong Kito Galo” terbitan Dinas Sejarah Angkatan Darat. (FOTO: Maspril Aries)

KAKI BUKIT – Kalender tahun 2023 belum lagi berakhir, pada 31 Desember 2023 seorang Doedy Oskandar yang berprofesi sebagai wartawan mengirim flyer undangan terbuka “Peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam Tahun 2024”. Isinya mengundang untuk hadir pada pawai kendaraan dan prosesi peringatan pertempuran 5 hari 5 malam” yang akan berlangsung 1 Januari 2024.

Karena suatu sebab, akibat faktor alam pasca hujan deras mengguyur Palembang yang menyebabkan terjadinya banjir pada beberapa tempat, akhirnya saya urung menghadiri undangan tersebut.

Dari peringatan ini ada yang menarik, ternyata peringatan pertempuran yang sangat heroik terjadi pada 1 – 5 Januari 1947 diprakarsai dan dilaksanakan oleh berbagai komunitas masyarakat, ada seniman, budayawan, wartawan, akademisi dan lainnya.

Menurut Ketua Panitia Vebri Al Lintani, kegiatan peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam (P5H5M) ini dilaksanakan secara gotong royong atau bersama dari berbagai komunitas dan masyarakat. “Ada yang menyumbang makanan, ada yang menyumbang tenaga, ada yang menyumbang uang dan sebagainya sehingga kegiatan pada hari ini bisa terlaksana selama lima hari sejak 1 – 5 Januari 2024,” katanya.

Vebri Al Lintani menjelaskan, peringatan tahun ini yang diprakarsai dan dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat Palembang tanpa melibatkan institusi pemerintahan.

“Kami ingin ke depan kegiatan ini akan dibuat seperti karnaval kendaraan dan lainnya. Kami terinspirasi dengan karnaval bregodo atau Festival Brigadir seperti di Yogyakarta, dengan kreasi barisan-barisan tentara dengan ragam kreativitas baik pakaian dan berbagai berbaris”, ujar Vebri.

Untuk peringatan P5H5M tahun 2024 di Palembang tersebut menurut Vebri, panitia sudah mengundang para pimpinan daerah dan pejabat terkait namun kehadiran mereka diwakili para stafnya.


Vebri Al Lintani memberikan bingkisan kepada anggota veteran pada peringatan P5H5M. (FOTO: Dok. Doedy Oskandar)

Vebri Al Lintani mengaku, panitia mengharapkan kegiatan peringatan ini bisa dihadiri langsung Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Pangdam II/ Sriwijaya, Pj Gubernur Sumsel, Kapolda Sumsel dan Wali Kota Palembang serta pejabat terkait lainnya. “Panitia sejak November 2023 sudah menyampaikan surat ke Gubernur Sumsel, Pangdam I/ Sriwijaya, Kapolda Sumsel dan Wali Kota Palembang,” ujarnya.

Vebri pun menyampaikan harapannya, semoga pada Peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam Tahun 2025 para pimpinan tersebut bisa hadir dan ikut memperingati bersama masyarakat Palembang atau Sumatera Selatan.

Amnesia Sejarah

Harapan yang disampaikan Vebri Al Lintani yang juga seorang pelaku seni di Palembang adalah bagian dari ajakan bahwa pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang tersebut adalah bagian dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang saat itu belum genap berusia dua tahun.

Mengutip dari laman Wikipedia, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan peristiwa perlawanan tentara Indonesia (TRI/ Tentara Republik Indonesia) terhadap serangan pasukan tentara Belanda (NICA) yang terjadi selama lima hari berturut-turut sejak tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

Pertempuran 5 Hari 5 Malam tersebut adalah Palagan Palembang seperti ditulis dalam buku berjudul “Palagan Palembang Pertempuran Lima Hari Lima Malam Wong Kito Galo” yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat tahun 2012.

P5H5M yang terjadi di Palagan Palembang adalah salah satu penggalan sejarah Bangsa Indonesia. Peringatan yang dilaksanakan oleh berbagai komunitas di ibu kota Provinsi Sumatera Selatan tersebut adalah bagian dari upaya agar tidak melupakan sejarah atau mengidap penyakit “amnesia sejarah”. Sekaligus menunaikan pesan dari Proklamator Bung Karno pada perayaan HUT RI tahun 1966 bertema “Jangan sekali-kali melupakan Sejarah!” yang kemudian dikenal dengan sebutan “Jas Merah”.


Panitia, pelaku teaterikal peringatan P5H5M bersama para veteran dan tokoh perjuangan. (FOTO: Dok. Doedy Oskandar)

P5H5M adalah sejarah yang harus terus dikenang dan dipelajari sampai generasi Z atau milenial. P5H5M adalah salah satu upaya atau “obat” bagi siapa pun yang terpapar “amnesia sejarah”.

Mengutip Christianto Dedy Setyawan, Sariyatun, Cicilia Dyah Sulistyaningrum Indrawati dalam “Penguatan Nilai-Nilai Keteladanan Hidup Berbasis Forum Komunitas Sejarah Pada Generasi Muda Masa Kini” (2021), amnesia sejarah menjadi bagian dari rupa gangguan yang dapat mengganggu proses perkembangan karakteristik generasi muda. Amnesia sejarah dapat terjadi jika pelajaran sejarah hanya sekadar numpang lewat dalam kehidupan manusia. Lupa terhadap sejarah menjadi fenomena yang berbahaya.

Christianto Dedy Setyawan dan kawan-kawan mengajak untuk merawat daya ingat terhadap sejarah dapat menentukan sikap hidup manusia di masa kini dan masa depan.

“Masyarakat yang mengalami amnesia sejarah terhadap lingkungan tempat tinggalnya tidak akan merasa turut memiliki wilayah tersebut beserta aneka isinya”, tulis Christianto Dedy Setyawan, Sariyatun, Cicilia Dyah Sulistyaningrum Indrawati dalam penelitiannya.

Menurut mereka, “Masyarakat cenderung cuek, abai, dan enggan melibatkan diri dengan lingkungan sekitarnya karena kurangnya jalinan tali penghubung antara manusia dengan lokasi. Mereka tidak mengetahui jika sejarah lokal mempunyai peran besar dalam membangun identitas serta kebanggaan masyarakat setempat”.

Amnesia sejarah bukan sekedar “penyakit”. Mengutip Leela Gandhi dalam bukunya “Teori Poskolonial: Dalam Meruntuhkan Hegemoni Barat” berpendapat bahwa bangsa-bangsa bekas koloni cenderung berusaha lepas dari luka lama dengan cara amnesia sejarah, dengan kata lain secara sengaja menghapus sejarah kelam masa penjajahan dari kerangka pikir bangsa-bangsa terjajah.

Hal ini mempengaruhi pola pikir dan mentalitas sehingga semakin tidak percaya diri dan tidak mempunyai pegangan sejarah yang kuat dan mudah diombang-ambingkan oleh ketergantungan pada sistim-sistim kolonial.

Menurut Nani I.R Nurrachman dalam penelitian “Memori Menjadi Narasi: Trauma Sosial dalam Sejarah Nasional” (2016), sering terlontar bahwa bangsa Indonesia mudah lupa, memiliki memori ingatan jangka pendek. Bahkan pada saat-saat di mana sebagian masyarakat mempertanyakan rasa kebangsaan sebagai bangsa Indonesia, dikatakan bahwa bangsa ini sedang mengalami ‘amnesia sejarah’.


Pawai peringatan P5H5M di Jalan Jendral Sudirman Palembang. (FOTO: Dok. Doedy Oskandar)

Untuk melawan penyakit amnesia sejarah tersebut menurut Yohanes Rasul Subakti dalam “Tantangan Guru Sejarah Dalam Mengajar Dan Belajar Berbasis Hots” (2021), perlu adanya gerakan untuk melawannya. Untuk itu, pertama, perlu dikembangkan upaya-upaya agar masyarakat bisa belajar sejarah secara lebih terbuka, lebih sehat, dan lebih menarik, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi. Kedua, perlu adanya kebangunan kembali kesadaran sejarah di masyarakat luas.

Menurut Yohanes, sebagai disiplin ilmu, sejarah merupakan bidang akademis yang dapat mendidik individu untuk bersikap kritis karena ia merupakan ilmu yang terbuka atas berbagai interpretasi, verifikasi, falsifikasi, dan sebagainya. Proses pembelajaran sejarah yang dimonopoli dan direkayasa demi aneka kepentingan tertentu yang eksklusif perlu semakin dihindari. Berbagai metode dan metodologi sejarah penting untuk terus dikembangkan dan dimanfaatkan.

Kemudian kebangunan kembali kesadaran sejarah perlu ditempuh upaya guna merangsang masyarakat agar kian tertarik sejarah. Bermacam ragam alat komunikasi publik yang tersedia luas dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ini. Salah satunya dengan memperingati P5H5M dengan berbagai agenda kegiatannya. Sehingga diharapkan, masyarakat yang sadar sejarah akan semakin mampu belajar dari masa lalunya sendiri maupun masa lalu orang lain.

Di dunia pendidikan, menurut Christianto Dedy Setyawan dan kawan-kawan, monotonnya pembelajaran sejarah yang bermuara pada pudarnya ketertarikan pada ilmu sejarah menjadi alarm berbahaya yang patut diwaspadai.

Amnesia sejarah dapat terjadi jika pelajaran sejarah hanya sekadar numpang lewat dalam kehidupan manusia. Lupa terhadap sejarah menjadi fenomena yang berbahaya. Merawat daya ingat terhadap sejarah dapat menentukan sikap hidup manusia di masa kini dan masa depan.

Melawan penyakit amnesia sejarah tersebut, perlu adanya gerakan untuk melawannya. Demikian pula dengan belajar sejarah, bagi siapa pun, belajar sejarah itu bukan hanya saja untuk mengetahui masa lampau, tetapi lebih dari itu, yaitu untuk melatih manusia lebih bersikap bijaksana dalam menyelesaikan persoalan.

Khusus untuk peringatan P5H5M, dengan mengutip buku “Palagan Palembang” yang ditulis dan diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, “Banyak nilai-nilai perjuangan yang patut dipetik. Kesemestaan perjuangan mempertahankan tanah air, khususnya Palembang, telah melibatkan seluruh lapisan masyarakat, yaitu adanya pengerahan logistik dan tenaga bantuan militer dari rakyat untuk pasukan TRI, Laskar dan Pejuang”. (maspril aries)

Tagged: