
KAKI BUKIT – Media sosial merupakan platform media yang fokus memfasilitasi pengguna dalam beraktifitas. Pada media sosial penggunanya bisa mempresentasikan dirinya maupun berinteraksi, kerja sama, sharing, berkomunikasi dengan pengguna lain dan membentuk ikatan sosial secara virtual.
Media sosial juga menjelma menjadi untuk mengekspresikan diri bahkan memamerkan kegiatan sehari-hari bagi penggunanya. Dengan demikian dapat mendatangkan rasa iri atau tidak suka antar sesama pengguna. Rasa tidak suka tersebut dapat menimbulkan gangguan mental berupa depresi kepada penggunanya. Anak-anak atau remaja menggunakan media sosial untuk mempesentasikan dirinya dengan cara berbagi semua aktivitas sehari-hari dengan berbagai media seperti foto, video bahkan audio.
Kecanduan Medsos
Mengutip L Braghieri, R Levy & A Makarin dalam “Social Media and Mental Health, (2022) mendefinisikan media sosial sebagai, “Bentuk elektronik komunikasi (sebagai situs web untuk jejaring sosial dan micro-blogging) yang digunakan pengguna membuat komunitas online untuk berbagi informasi, ide, pesan pribadi, dan konten lainnya (sebagai video).”
Platform virtual media sosial seperti Facebook, Twitter, MySpace, Instagram, Snapchat, Tiktok, Game Online, dunia maya seperti Second Life, Sims, YouTube, Blogs dan sebagainya, telah memfasilitasi pengguna untuk bertukar pikiran perasaan mereka, ide, informasi pribadi, gambar dan video pada proporsi yang tidak diutamakan.
Apakah anak anda kecanduan media sosial (medsos)? Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dilansir tahun 2013 menyatakan bahwa 95 persen masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial dan sebagian besar dari penggunaan internet itu adalah remaja berusia 10-15 tahun.
Data tersebut adalah temuan 10 tahun lalu. Apakah sekarang ada perubahan, remaja yang mengakses internet dan mengakses jejaring sosial atau media sosial jumlahnya berkurang. Atau sebaliknya jumlahnya bertambah?
Menurut studi Pew Research Center menyatakan bahwa media sosial hampir erat kaitannya dengan kehidupan remaja. Kehadiran media sosial sangat membantu para remaja untuk mengembangkan minat dan bakatnya, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menjalin pertemanan dan berbagi pikiran dan gagasan.
Di sisi lain, kehadiran media sosial memberikan dampak negatif yang serius bagi remaja, bahkan dalam hal berisiko kecanduan dan gangguan mental seperti kecanduan.
Menurut Sourav Chandra Gorain, Agamanai Mondal, Karim Ansary, Birbal Saha dalam “Social Isolation in Relation to Internet Usage and Stream of Study of Under Graduate Students,” (2018), “Remaja yang mengalami kecanduan bermain media sosial akan lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain media sosial dibanding dengan interaksi dengan keluarga, teman bahkan kerabat lainnya, hal tersebut mengarah pada mengecilnya lingkaran sosial dengan kuantitas yang menurun dan membuat tingkat stress menjadi lebih tinggi.”
Keadaan seperti inilah yang bisa menyebabkan seseorang berada pada kondisi sama sekali tidak ada interaksi dengan masyarakat atau makhluk sosial lainnya yang bisa menyebabkan depresi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) depresi adalah gangguan mental yang generik terjadi pada masyarakat. Ini tidak jarang ditandai dengan kesedihan yg terus-menerus, dan kurangnya minat ataupun kesenangan pada saat melakukan aktifitas yang sebelumnya menyenangkan. Depresi juga dapat mengganggu tidur, mengurangi nafsu makan seorang, bahkan dapat membuat orang tersebut gampang kelelahan dan mempunyai konsentrasi yang buruk.
Dari banyak penelitian, menurut para peneliti, hubungan antara kecanduan media sosial dan depresi berkaitan dengan frekuensi atau durasi penggunaannya, seperti kurang tidur, produktivitas kerja berkurang, lebih sedikit waktu yang dihabiskan dengan orang lain, dan perasaan yang muncul saat tidak menggunakan internet, seperti perasaan depresi, suasana hati yang murung, kebodohan, dan kekosongan.
Jelas bahwa hubungan sosial di dunia maya diantaranya: Instagram, Facebook, WhatsApp dan yang lainnya cukup berpengaruh pada kesehatan mental seseorang, khususnya kesehatan mental pada kalangan remaja.
Apa itu kesehatan mental?
Menurut L Braghieri, ketika media sosial mulai populer di pertengahan tahun 2000-an, kesehatan mental remaja dan dewasa muda mulai memburuk. Kesehatan mental kini menjadi masalah yang serius. Misalnya, jumlah individu berusia 18-23 tahun yang melaporkan mengalami episode depresi mayor.
Menurut WHO, kesehatan mental merupakan fenomena serius yang perlu diperhatikan. Badan kesehatan dunia ini memprediksi bahwa kesehatan mental, neurologis serta penggunaan zat masuk dalam 10 persen dari beban penyakit global. Umumnya terjadi pada individu usia produktif yakni 15-29 tahun.
Pada laporan WHO tahun 2018 menyebutkan, di mana 10 sampai 20 persen anak dan remaja di seluruh negara mengalami masalah dalam kesehatan mental mereka. Masalah fundamental generasi muda merupakan kecemasan dan depresi.
Sementara itu laporan Bank Dunia tahun 2020 menyebutkan bahwa kesehatan mental, neurologis dan penggunaan zat di prediksi menjadi penyebab ekonomi global di angka $ 2,5-8,5 triliun. Sebagian besar gangguan mental dipahami memiliki onset (serangan atau permulaan) ketika masa remaja hingga transisi dewasa.
Banyak hasil penelitian di dunia tentang media sosial dan kesehatan mental mengingatkan bahwa, semakin lama durasi remaja bermain media sosial, akan berpengaruh terhadap kesehatan mental, ini dikarenakan remaja akan fokus dengan dirinya atau dunianya sendiri dan menyebabkan kecanduan menggunakan media sosial.
Jika dulu banyak orang tua yang khawatir anak atau remaja dengan rokok dan takut kecanduan menjadi perokok karena tak baik bagi kesehatan. Maka kini orang tua juga harus waspada terhadap anaknya menginjak usai remaja, bisa kecanduan media sosial.
Kini banyak negara di dunia menjadikan remaja sebagai target penting mencegah dampak buruk media sosial yang berpengaruh pada kesehatan mental mereka. Negara-negara tersebut juga berkampanye dan mendorong media sosial perlu dipergunakan secara bijaksana. (maspril aries)






