Home > Literasi

Marsinah dari Lakon Ratna Sarumpaet, Puisi Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul (Bagian 1)

Perjuangan dan kematian Marsinah pada 8 Mei 1993 telah menjadi inspriasi lahirnya berbagai karya seni.
Sampul depan naskah lakon tentang Marsinah.

KAKI BUKIT – Dalam buku berjudul “Nyanyian Bawah Tanah” karya Ratna Sarumpaet yang terbit tahun 1997, Goenawan Mohamad atau GM menulis, “Marsinah adalah sebuah petunjuk, mungkin lambang, yang terang dan perih – dan mungkin sebab itu, ia bisa menyebabkan sebuah karya seni rupa dapat diciptakan atau sebuah lakon ditulis, dipentaskan, (dan kemudian dibukukan), seperti karya Ratna Sarumpaet ini.”

Perjuangan dan kematian Marsinah pada 8 Mei 1993 telah menjadi inspriasi lahirnya berbagai karya seni. Selan naskah lakon yan ditulis Ratna Sarumpaet ada juga karya puisi ditulis Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul. Juga ada karya film tentang Marsinah dengan sutradara Slamet Rahardjo.

Siapa Marsinah?

Mungkin banyak generasi milenial tidak tahu dan kenal tokoh ini. Marsinah adalah buruh perempuan, juga pejuang buruh yang tewas pada 8 Mei tiga puluh tahun lalu.

Mayat Marsinah ditemukan di sebuah gubuk dekat hutan Wilangan, Kabupaten Nganjuk tanggal 8 Mei 1993. Pada sekujur sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda keras, kedua pergelangannya lecet-lecet, tulang panggul hancur karena pukulan benda keras berkali- kali, di sela-sela paha terdapat bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul dan pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah.

Marsinah terlahir sebagai anak nomor dua dari tiga bersaudara dari pasangan Sumini dan Mastin. Marsinah lahir pada 10 April 1969 dan pada usia tiga tahun ia ditinggal mati oleh ibunya. Lalu Marsinah diasuh neneknya bernama Pu’irah yang tinggal bersama bibinya di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Marsinah menjalani pendidikan di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang kemudian dilanjutkan ke SMPN 5 Nganjuk. Sejak kecil Marsinah sudah belajar hidup mandiri dengan dengan berjualan makanan kecil.

Lulus SMP, Marsinah melanjutkan pendidikan ke SMA Muhammadiyah dan tinggal di Nganjuk. Marsinah dikenal sebagai siswa yang cerdas dan meraih prestasi juara kelas.

Dari SMA Marsinih berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke IKIP. Keinginan itu kandas karena tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Urung kuliah Marsinah mengirim lamaran kerja ke beberapa perusahaan. Tahun 1989 ia diterima bekerja di pabrik sepatu Bata Surabaya. Setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji PT Empat Putra Surya di Rungkut Industri, kemudian ia dipindahkan cabang perusahaan tersebut di Siring, Porong, Sidoarjo.

Di Sidoarjo selain bekerja sebagai buruh, Marsinah mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Di kalangan para buruh Marsinah pendiam, lugu, ramah, supel, ringan tangan dan setia kawan. Ia kerap membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Marsinah di kalangan buruh dikenal pemberani dan setia kawan.

Pertengahan April 1993 ada surat edaran Gubernur Jawa Timur (Jatim) tentang kenaikan upah buruh yang meminta para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dari upah pokok. Para buruh PT CPS (Catur Putra Surya) pabrik tempat kerja Marsinah menuntut perusahaan mematuhi ketentuan tersebut.

Marsinah bersama buruh PT CPS menuntut kenaikan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250 per hari, berikut cuti haid, cuti hamil, perhitungan upah lembur, dan pembubaran unit kerja SPSI yang dianggap tidak mewakili kepentingan buruh.

Tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT CPS mogok mereka tidak masuk kerja, kecuali staf dan para kepala bagian. Pada hari itu Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional.

Data ini akan menjadi dasar Marsinah dan para buruh untuk disampaikan pengusaha perusahaan. Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT CPS berunjuk rasa mengajukan 12 tuntutan. Marsinah bersama kawan-kawan buruh juga menuntut kebebasan hak buruh untuk berserikat.

Empat hari kemudian Marsinah ditemukan tewas di sebuah gubuk dekat hutan Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Kasus tewasnya Marsinah kemudian bergulir ke ranah hukum, pihak-pihak yang terkait dengan pembunuhan Marsinah lalu diadili. (maspril aries)

Baca juga : https://kakibukit.republika.co.id/posts/213188/hari-buruh-sk-trimurti-marsinah-dan-wiji-thukul

× Image