Home > News

Maspril Aries Luncurkan Buku Belajar Jurnalistik ke Missouri pada HPN 2023

Buku yang diterbitkan Pustaka Labrak bersama Kaki Bukit Literasi tersebut berisi kumpulan tulisan opini dan artikel tentang pers atau jurnalisme.
Maspril Aries bersama wartawan senior Marah Sakti pada HPN 2023 di Medan. (FOTO : Istimewa)

KAKIBUKIT, Medan – Bersamaan dengan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2023 yang berlangsung di Medan, 7 - 10 Februari, wartawan dan penggiat literasi Maspril Aries kembali meluncurkan buku. Kali ini buku terbaru mantan wartawan Republika tersebut berjudul “Belajar Jurnalistik ke Missouri.”

Buku yang diterbitkan Pustaka Labrak bersama Kaki Bukit Literasi tersebut berisi kumpulan tulisan opini dan artikel tentang pers atau jurnalisme. Buku tebalnya 363 halaman berisi 62 tulisan. Seluruh tulisan terbagi dalam tiga bab. Bab pertama tentang Jurnalisme dan Hukum. Bab kedua tentang Pers dan Ragamnya, dan Bab ketiga tentang Pers dan Tokoh.

Selain itu tulisan dari wartawan peraih Press Card Number One (PCNO) pada HPN 2023, buku ini memuat tulisan dari tiga orang doktor, yaitu kata pengantar dari Dr Yenrizal Ms staf pengajar Fisip UIN Raden Fatah dan Catatan dari Missouri oleh Fitria Andayani SIkom, MA, PhD alumnus Missouri School of Journalisme mantan wartawati Republika yang kini staf pengajar pada Universitas Pertamina.

Buku "Belajar Jurnalistik ke Missouri"

Pada epilog ada tulisan dari Dr Firdaus Komar, Msi yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan. Dan tidak kalah pentingnya, pada sampul belakang ada catatan atau endorsment dari Ketua Umum PWI Atal S Depari.

Menurut Atal, Maspril Aries yang mulai dikenalnya saat menjadi wartawan Republika, buku “Belajar Jurnalistik ke Missouri” banyak berisi wacana atau pemikiran seputar pers atau jurnalistik yang dituangkan dalam tulisan yang sungguh enak dibaca.

“Buku ini layak menjadi referensi dan bacaan masyarakat umum, bahkan kalangan akademisi. Maspril Aries menulis dalam setiap topik yang dibahas, selalu merujuk pada referensi ilmiah digabung dengan pengalamannya sebagai praktisi pers. Saya mengajak wartawan menambah wawasannya dengan membaca buku ini,” kata Atal Depari.

Sementara itu menurut wartawan Dudi Oskandar, buku “Belajar Jurnalistik ke Missouri” adalah sebuah potret perjalanan jurnalistik sekaligus keresahan jiwa Maspril Aries sebagai seorang jurnalis senior yang produktif dalam menulis dan menerbitkan buku.

Dudi yang tercatat sebagai wartawan RMOL Sumsel, mengatakan, “Seperti kata pepatan ‘buku adalah jendela ilmu’ ini dimaksudkan bahwa ketika kita membaca buku ini maka pengetahuan yang kita dapatkan sangat luas dan menjabar. Selain itu membaca buku ini juga dapat mengisi waktu luang kita dan menjadi solusi jika kita telah melakukan aktivitas jurnalistik.”

“Jika kamu seorang jurnalis maka perlu membaca buku ini untuk mengetahui pengalaman Maspril selama menjadi jurnalis. Saya selaku teman Maspril dan banyak pembaca buku lain ikut merasakan manfaat luar biasa dari buku ini ,” katanya.

Dudi yang juga Ketua Seksi Wartawan Kebudayaan PWI Sumsel menyatakan, “Saya meyakini satu hal. Buku itu sangat-sangat memberikan wawasan baru dan banyak terutama tentang menulis dan jurnalistik. Insya Allah, buku ini benar-benar manfaat buat pembaca karena ditulis dengan bahasa yang sederhana, diberikan contoh-contoh yang mudah, sehingga tidak meninggalkan pembaca dalam kebingungan dan sejuta tanya, dan komplet. Namun, saya yakinkan bahwa buku ini layak untuk dimiliki dan dibaca.”

Cover depan dan belakang buku.

Ketua Komisi I DPRD Sumsel Antoni Yuzar yang telah membaca buku “Belajar Jurnalistik ke Missouri” mengatakan, “Buku yang menarik. Alur tulisannya runut dan enak dibaca. Kaya informasi tentang perkembangan jurnalistik kekinian. Saya membeli bukunya beberapa eksemplar untuk diberikan kepada teman- teman sejawatnya,” kata anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ris’an Rusli Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah di laman medsosnya menulis, “Buku yang menarik dari seorang wartawan senior yang menggambarkan bagaimana perjalanan dan keresahan jiwa jurnalistiknya hingga pengalamannya sampai ke Missouri Amerika Serikat.”

Guru besar UIN Raden Fatah itu menulis, buku “Belajar Jurnalistik ke Missouri” membahasa jurnalistik dari sisi hukum, dan bagaimana pers dengan bermacam ragamnya serta pers dengan tokoh-tokohnya. “Buku ini buku yang sangat insipiratif, bisa menjadi awal dari penelitian baru bagi mahasiswa dan penelitik jurnalistik. Mahasiswa jurnalistik wajib membaca buku ini. Dalam buku ini disinggung bagaimana jurnalisme konvensional dikaitkan dengan jurnalisme Islam yang belum mendalam pembahasannya. Ini ke depan bisa menjadi sebuah obyek penelitian,” katanya.

Menurut Dudi, dalam buku ini Maspril Aries menyebutkan bahwa seorang wartawan merupakan intellectual action yang selalu berkutat dengan ilmu dan mengimplementasikan dengan tindakan. “Jika ingin menjadi wartawan yang baik dan berkompeten maka kuncinya belajar karena ilmu jurnalistik itu terus berkembang.”

Dudi yang telah membaca tuntas buku ini menjelaskan, Maspril Aries menulis menu lengkap dalam buku ini, ada konvergensi media, tentang juirnalisme online sampai jurnalisme radio. Juga menulis tentang kaitan media sosial dengan jurnalisme, tentang kemerdekaan pers, ada kajian tentang podcats, juga gambaran tentang wartawan yang terjerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Juga ada pembahasan tentang jurnalisme kloning atau plagiarisme yang marak pada era jurnalisme online. Tulisan ini mengulas kegusaran Bung Firko Ketua PWI Sumsel terhadap fenomena jurnalisme cloning karena menurunkan karakter media. Jadi tidak rugi membeli buku yang tebal dan memperkaya wawasan tentang jurnalisme dengan harga Rp100.000/ eksemplar,” ujar Dudi. (muhammad rifky)

× Image