
KAKI BUKIT – Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana sudah sampai di Tembagapura dan bermalam di sana, di salah kota tertinggi di Indonesia yang terletak di timur Indonesia tepatnya di Provinsi Papua Tengah. Tembagapura adalah adalah kota tambang atau Distrik Tembagapura dalam wilayah Kabupaten Mimika yang sebelum pemekaran masuk dalam Provinsi Papua.
“Kamu kapan mau melancong ke Tembagapura?” Besok atau lusa ayo healing ke Tembagapura.
“Kenapa harus ke Tembagapura?”
Tembagapura itu unik tidak ada destinasi yang serupa di Indonesia. Kalau ada mungkin di luar negeri.

Atau pernah mendengar lagu yang liriknya “Tanah Papua, Surga Kecil Jatuh ke Bumi” dinyanyikan pada pembukan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. Tembagapura itu adalah salah satu sisi dari surga kecil itu. Presiden Joko Widodo di Instagram peribadinya juga menulis, “Tanah Papua, Surga Kecil Jatuh ke Bumi.”
Jika sempat, sebelum healing ke Tembagapura, baca dulu buku berjudul “Tembagapura Tambang, Keunikan dan Keindahan Alam di Sekitarnya.” Buku ini ditulis oleh tim para karyawan PT Freeport Indonesia yang dipimpin langsung Presiden Direktur dan CEO PT Freeport Indonesia Armando Mahler (almarhum).

Buku ini memberi cerita komplet tentang Tembagapura dari sejarah PT Freeport hadir di Papua sampai tentang sarana dan prasarana pendukung ada yang di kota terletak pada ketinggian 2.200 mdpl. Buku ini juga menyajikan foto-foto dari yang hitam putih sampai berwarna mengirim pesan tentang keindahan dan keelokan Tembagapura.
Kota Tembagapura adalah salah kecamatan dalam wilayah Kabupaten Mimika. Untuk mencapai Tembagapura tidak mudah. Di sinilah yang membuat kota ini menjadi destinasi yang harus dikunjungi siapa pun yang ingin healing.
Memang tidak setiap orang bisa berkunjung apa lagi berwisata ke kota yang namanya pemberian Presiden Soeharto. Pada 1973 Presiden Soeharto berkunjung ke Irian Jaya sebelum bernama Papua, untuk meresmikan beroperasinya tambang Ertsbert oleh PT Freeport Indonesia Incoporated.

Mungkin saja ada perusahaan perjalanan yang menawarkan Tembagapura yang indah dan elok masuk dalam daftar destinasi wisata Indonesia yang mereka tawarkan? Bagi mereka yang ingin berkunjung ke sini harus memenuhi sejumlah prosedur, seperti mengajukan permohonan atau proposal ke kantor Freeport Indonesia di Jakarta.
Tidak semua permohonan akan disetujui, jika disetujui manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) berarti itu sebuah keberuntungan. Kalau disetujui, perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut akan membantu perjalanan anda. Biasanya permohonan dari pemerintah, pemerintah daerah atau parlemen yang disetujui dan keberangkatannya diatur dalam rombongan bukan sendiri-sendiri.
Kota Tembagapura atau Kecamatan Tembagapura adalah sebuah distrik setingkat kecamatan yang terletak di Kabupaten Mimika, Papua. Kota ini dibangun PT Freeport untuk mendukung aktivitas pertambangan di sana. Tembagapura lebih tepat disebut sebagai kota tambang yang berada bak “negeri di awan.”
Tak salah jika Tembagapura masuk dalam daftar perjalanan yang akan dituju tahun depan. Kota ini hampir setiap hari kabut menyapa kota ini, tidak pagi atau siang hari. Di kecamatan Tembagapura terdapat dua gunung, yang merupakan kawasan tambang yang dioperasikan PT Freeport Indonesia, yaitu Gunung Ertsberg dan Gunung Grasberg. Namun keduanya sudah tidak operasikan lagi.

Menuju Tembagapura bisa dengan perjalanan dari Jakarta ke Timika menggunakan penerbangan. Penerbangan dari bandara Soekarno – Hatta hampir menjelang tengah malam dengan menggunakan pesawat maskapai Airfast. Maskapai ini setiap hari terbang membawa penumpangnya yang sebagian besar karyawan PT Freeport Indonesia dari Timika ke Jakarta, Makassar, Surabaya atau Denpasar.
Pesawat setelah lepas landas dari Soekarno-Hatta singgah atau transit di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Malam itu terbang dengan pesawat jenis MD 82, butuh waktu sekitar lima jam sampai di Bumi Cendrawasih, Papua.
Saat pagi menyapa di wilayah waktu Indonesia bagian timur atau WIT pesawat mendarat mulus di landasan bandara Mozes Kilangin yang ada di Timika. Walau mata masih terasa berat karena kantuk masih menggantung, namun rasa kantuk itu sesaat harus dikalahkan demi tahu dan kenal Papua yang indah.

Bandara Mozes Kilangin yang dibangun 1970 merupakan bandara internasional untuk penerbangan dari dan ke wilayah proyek PT Freeport Indonesia. Bandara ini memiliki panjang landasan 2.390 meter dengan lebar 45 meter. Pada 2008 baru dibuka untuk umum. Bandara Mozes Kilangin memiliki fasilitas yang modern dan lengkap.
Setelah istirahat sejenak di bandara, perjalanan masih akan diteruskan ke Tembagapura. Ada dua pilihan ke sana, dengan perjalanan darat menggunakan bus atau terbang dengan chopper. Jika menggunakan bus harus melewati medan dan jalan yang cukup ekstrim, jika perjalanan lancar Tembagapura bisa ditempuh dengan waktu sekitar dua atau tiga jam. Bus nya pun khusus anti peluru.

Perjalanan kali ini berkesempatan naik chopper. Kalau dalam ilmu sejarah, chopper adalah istilah yang dilekatkan atau nama kapak dari batu. Namun chopper di Papua adalah alat transportasi domestik paling mahal, terbang dari bandara Mozes Kilangin ke Tembagapura hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mendarat di Heliport Aing Bugin.
Chopper adalah sebutan masyarakat di Timika atau karyawan Freeport untuk alat transportasi jenis helikopter dengan kapasitas angkut lebih besar dari helikopter pada umumnya. Mampu membawa 30 orang berikut awak dan kru untuk satu kali penerbangan.
Walau terbang dalam waktu yang singkat namun bukan jaminan bisa terbang secara terjadwal. Chopper bisa stand by setiap hari namun penerbangan dari dan ke Tembagapura amat tergantung pada cuaca. Cuaca bisa berubah secara ekstrem setiap waktu. Beruntung pagi itu cuaca cerah dan penerbangan ke Tembagapura bisa dengan lancar. Terbang di atas ketinggian hutan dan pegunungan Papua di bawah terlihat hijau dengan puncak penggunungan yang menjulang. Di sudut lain di kejauhan ada terlihat kabut tebal.
Mendarat di Heliport Aing Bugin yang terletak Mile 66, saat keluar dari chopper udara dingin langsung menyergap tubuh. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju guest house untuk beristirahat di tengah udara Tembagapura yang pagi itu sangat dingin yang ditingkahi dengan kabut. Guest house-nya memiliki fasilitas layak standar hotel berbintang.
Catat ya, jika berkunjung ke Tembagapura jangan lupa membawa perlengkapan jaket tebal untuk menghangatkan tubuh. Suhu di Tembagapura berkisar 5 – 20 derajat celcius. Di kota ini matahari kerap bersinar “malu-malu” karena selalu tertutup awan dan kabut serta hujan.

Kota Tembagapura memiliki topografi perbukitan yang cukup terjal maka tak heran jika jalanan berkelok-kelok dan bergelombang. Namun Tembagapura adalah kota yang rapi dan teratur. Desain dan tata kotanya seperti kota-kota di negara maju dengan pemandangan susunan bangun perumahan sampai barak yang menjadi tempat tinggal para karyawan PT Freeport Indonesia.
Perumahaan diperuntukkan bagi karyawan yang berkeluarga dan karyawan lajang. Tipe perumahannya mulai dari tipe 54 sampai tipe 250. Barak diperuntukkan karyawan staf dan bukan staf status lajang dan status berkeluarga yang tidak membawa anggota keluarganya ke Tembagapura.
Selain di Tembagapura yang terletak di Mile 68 yang menjadi tempat tinggal sebagian besar karyawan PT Freeport Indonesia, juga ada komplek perumahaan Hidden Valley atau Aing Bugin yang terletak di Mile 66 atau sekitar tiga kilometer ke arah Selatan Tembagapura.
Di Hidden Valley ada rumah tipe apartemen dan tipe rumah kopel. Perumahan di kawasan ini arsitektur bangunan berciri menyudut yang artistik dan penataan bangunannya membentuk kota kecil yang teratur dan asri. Di sini juga menjadi tempat tinggal karyawan staf yang membawa keluarganya.
Dengan kota yang tertata rapi, di Tembagapura juga fasilitas sosial dan fasilitas umum yang lengkap. Ada pusat perbelanjaan dan kafe, toko, restoran, salon kecantikan dan bank. Juga tersedia fasilitas olahraga seperti kolam renang air hangat di kawasan Bukit Pelangi, lapangan sepak bola sampai tempat kebugaran.
Selain itu di Ridge Camp atau Mile 72 tempat perumahan bagi karyawan lajang tersedia ruang makan bagi karyawan, juga ada restoran dan bar yang diberi nama Lelah Lupa Club (LLC) juga ada Rumah Makan Nusantara yang dikelola Koperasi PTFI (Kokafri).
Tembagapura memiliki luas 2.280 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 30.000 jiwa. Untuk transportasi penduduknya di sini PTFI menyediakan bus bagi karyawan dan tamu yang berkunjung. Bus ini gratis. Bus di Tembagapura adalah alat transportasi darat yang menunjang aktivitas tambang dan transportasi sehari-hari warganya. Bus di sini berbeda dengan bus kota yang ada di tempat lain.
Lazimnya sebuah kota, di Tembagapura moda transportasinya adalah kendaraan roda empat jenis bus yang disediakan PTFI, ada bus kerja yang digunakan untuk mengangkut karyawan ke dan dari daerah tambang. Juga ada bus cuti mingguan yang libur mingguan (Schedule Day Off/ SDO) ke dan dari Timika. Kemudian ada bus cuti yang khusus mengangkut karyawan ke dan dari bandara, bus sekolah yang mengangkut anak-anak sekolah dan bus kota dengan trayek perjalanannya di dalam kota. Bus di Tembagapura besar-besar.

Di Tembagapura juga ada fasilitas ibadah masjid dan gereja. Masjid dan geraja di Tembagapura masing-masing ada dua. Masjid Darussa’adah menjadi masjid terbesar dan ada mushala Al Munawwarah berdiri di Hidden Valley. PTFI juga menyediakan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit yang lengkap dengan fasilitas gawat darurat, rawat inap, perawatan gigi dan laboratorium radiologi.
Tembagapura memang kota dengan keunikan dan keindahan alam di bumi Papua. Ada kabut, ada hujan, ada awan, ada sungai, ada hutan semuanya berpadu indah dan elok di bumi Cendrawasih. Tembagapura adalah kota tambang yang dihuni wargnya multi suku dan multi budaya.

Setelah dari Tembagapura menuju Timika jangan lupa singgah ke Kuala Kencana. Jika adalah kota tambang di dataran tinggi, maka Kuala Kencana adalah kota tambang di dataran rendah. Ada yang menyebut Kuala Kencana kota di tengah hutan rimba Papua. Jika dilihat dari kota ini seperti ada di tengah rimba.
Kuala Kencana adalah kota yang juga dibangun PT Freeport Indonesia, kita yang sekarang masuk dalam distrik Kuala Kencana diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 5 Desember 1995. Walau disebut berada di tengah rimba, kota ini adalah kota modern dengan fasilitas dan prasana pendukung yang lengkap sebagai senuah kota mandiri.
Kuala Kencana adalah kota yang dikelola PT Freeport Indonesia. Kuala Kencana adalah kawasan terbatas karena yang boleh masuk ke sini hanya orang-orang yang memiliki kartu identitas atau ID PTFI atau yang telah memiliki izin tertentu.
Kuala Kencana yang menurut cerita berasal dari kata “Kuala” yang berarti pertemuan dua sungai dan “Kencana” artinya emas. Jadi Kuala Kencana adalah wilayah pertemuan dua sungai yang mengandung emas. Mungkin maksud cerita ini seperti nama Kuala Lumpur ibu kota Malaysia.
Di Kuala Kencana akan bertemu dengan rumah-rumah penghuninya dibangun tanpa pagar, halaman yang luas yang seperti menyatu dengan alam dataran rendah. Demikian juga dengan saluran kabel listrik, komunikasi, serta pipa air bersih, serta pengolahan limbah rumah tangga tertanam rapi di dalam tanah. Fasilitasnya, tersedia berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhan karyawan PTFI dan keluarganya, ada sekolah, alun-alun, masjid dan gereja, perpustakaan, restoran, layanan perbankan dan pusat perbelanjaan serta beragam fasilitas olahraga. Masjidnya cukup besar bernama Baitur Rahim dan gereja Bethlehem.
Untuk fasiltas olahraga lapangan golf di sini memiliki 18 hole berada berada di tengah hutan dataran rendah dengan nuansa hutan tropis dengan nama Klub Golf Rimba Irian. Lapangan golf ini dirancang Ben Crenshaw dan Bill Core dua orang perancang pembangunan lapangan golf terkenal dari Amerika Serikat. Klub Golf di Kuala Kencana ini menjadi lapangan golf pertama di luar Amerika Serikat yang dirancang Ben dan Bill.

Setelah dari Kuala Kecana jangan lupa keliling Timika ibu kota Kabupaten Mimika untuk mencari aneka suvenir khas bumi Papua atau kuliner khas Papua.
Benar adanya seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, “Tanah Papua, Surga Kecil Jatuh ke Bumi.” Salah satu surga itu ada di Tembagapura. Jadi kapan rencana healing ke sini. Presiden Joko Widodo saja sudah. (maspril aries)




