Home / Opini / Membaca, Lebaran, dan Ilusi Kebudayaan

Membaca, Lebaran, dan Ilusi Kebudayaan

Oleh: Udo Z Karzi (Jurnalis-penulis, tinggal di Bandar Lampung)

ADA semacam optimisme yang terasa manis—bahkan terlalu manis—dalam imbauan agar masyarakat “tetap membaca saat libur Lebaran” sebagaimana diberitakan harian Kompas, 18 Maret 2026 halaman 5. Ajakan itu terdengar mulia, nyaris tak terbantahkan. Siapa yang berani menolak membaca? Siapa yang tega mengatakan bahwa buku tidak penting? Dalam lanskap kebijakan publik, membaca selalu ditempatkan sebagai kebajikan universal—sesuatu yang, jika ditolak, hampir terasa seperti menolak kemajuan itu sendiri.

Namun, justru di situlah persoalannya: ketika sesuatu terdengar terlalu benar, kewaspadaan perlu dinyalakan. Sebab di balik kebenaran yang tampak sederhana, sering tersembunyi penyederhanaan yang berbahaya.

Membaca tidak pernah sekadar aktivitas teknis—membuka halaman, mengeja huruf, lalu selesai. Membaca adalah tindakan kebudayaan. Ia menyangkut kesadaran, identitas, bahkan keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri dan realitas sosial. Ketika membaca direduksi menjadi sekadar “kegiatan pengisi waktu mudik”, maknanya pun ikut menyusut. Ia berubah dari laku batin menjadi sekadar aktivitas pengisi jeda, setara dengan menonton video pendek atau menggulir layar ponsel.

Membaca sebagai Seremoni

Imbauan agar orang membaca di bandara, stasiun, pelabuhan, atau terminal memang terdengar menarik. Bahkan, tampak progresif. Ruang tunggu yang biasanya penuh kegelisahan dibayangkan berubah menjadi ruang baca yang tenang. Buku hadir di tengah lalu-lintas manusia yang sibuk pulang ke kampung halaman. Gambaran ini indah—hampir puitis.

Namun, apakah keindahan itu benar-benar mencerminkan kenyataan? Ataukah hanya sekadar kosmetik kebijakan?

Yang tampak adalah gejala “seremonialisasi literasi”. Buku ditempatkan di ruang-ruang publik, rak-rak disediakan, kampanye digencarkan, tetapi hubungan batin antara pembaca dan bacaan tidak pernah benar-benar dibangun. Membaca lalu berubah menjadi gestur sosial: duduk, membuka buku, memotret, lalu mengunggahnya ke media sosial sebagai tanda partisipasi dalam budaya yang dianggap “baik”.

Dalam situasi semacam ini, membaca kehilangan kedalamannya. Ia tidak lagi menjadi proses internal yang sunyi dan personal, melainkan berubah menjadi tontonan. Tradisi digantikan oleh simbol. Yang tumbuh bukan kebiasaan, melainkan citra.

Fenomena ini bukan hal baru dalam kebudayaan kita. Banyak praktik kultural mengalami nasib serupa: dirayakan secara simbolik, tetapi kehilangan ruhnya. Membaca, dalam konteks ini, berisiko menjadi “ritual Lebaran”—hadir sebagai bagian dari perayaan, tetapi tidak benar-benar hidup dalam keseharian.

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/309480/literasi-dan-budaya-baca-berdetak-di-atas-kereta-lrt/

Problem Struktural

Ajakan membaca saat Lebaran juga cenderung mengabaikan persoalan mendasar: ketimpangan akses dan rapuhnya ekosistem literasi. Tidak semua orang memiliki kebiasaan membaca, dan itu bukan semata-mata karena kemalasan. Banyak yang sejak awal tidak pernah tumbuh dalam lingkungan yang mendukung tradisi membaca.

Di berbagai daerah—termasuk Lampung—buku masih menjadi barang yang jauh, baik secara fisik maupun kultural. Perpustakaan terbatas, distribusi buku tidak merata, harga buku relatif mahal, dan ruang diskusi nyaris tidak tersedia. Dalam kondisi seperti ini, membaca bukan sekadar kebiasaan yang belum tumbuh, tetapi sesuatu yang bahkan tidak sempat diperkenalkan secara layak.

Ajakan membaca saat mudik, dalam konteks tersebut, terdengar seperti anjuran yang melompat terlalu jauh. Ia mengandaikan keberadaan fondasi yang sebenarnya belum kokoh. Seolah-olah masyarakat hanya perlu “diingatkan” untuk membaca, padahal persoalannya jauh lebih kompleks: bagaimana membangun kedekatan antara masyarakat dan bacaan sejak awal.

Di tengah persoalan struktural itu, muncul pula fenomena kultural yang tak kalah menarik. Seorang kawan lama berujar, setengah bercanda tetapi terasa getir: “Anak-anak sekarang tidak suka membaca. Sebab, membaca itu kan berpikir. Mereka senang yang cepat ditangkap, dilihat dan didengar. Itulah sebabnya akrab dengan TikTok, YouTube, dan segala yang serbainstan.” Kalimat itu mungkin terdengar simplistis, tetapi menyimpan kegelisahan yang nyata.


Ilustrasi gerakan membaca. (FOTO: AI)

Budaya instan memang membentuk cara baru dalam menyerap informasi. Visual bergerak, suara, dan potongan-potongan singkat menawarkan kepuasan cepat tanpa tuntutan konsentrasi panjang. Dalam ekosistem semacam ini, membaca—yang membutuhkan kesabaran, imajinasi, dan kedalaman—sering kali kalah menarik. Bukan karena ia tidak penting, tetapi karena ia menuntut sesuatu yang semakin jarang dilatih: ketekunan berpikir.

Namun, menyalahkan generasi semata jelas tidak cukup. Mereka tumbuh dalam lanskap media yang memang didesain serbacepat dan serbasingkat. Jika membaca terasa asing, itu karena lingkungan kulturalnya tidak lagi memberi ruang yang memadai bagi praktik membaca yang mendalam.

Ruang Refleksi

Lebaran sejatinya adalah momentum refleksi. Setelah sebulan menjalani Ramadan, manusia diajak kembali kepada fitrah—kepada kejujuran diri dan kesadaran spiritual. Dalam konteks ini, membaca sebenarnya memiliki tempat yang penting, tetapi bukan sebagai distraksi, melainkan sebagai bagian dari perenungan.

Pertanyaannya bukan sekadar “di mana membaca”, tetapi “apa yang dibaca” dan “untuk apa membaca”. Tanpa pertanyaan ini, membaca mudah terjebak menjadi aktivitas permukaan.

Bacaan yang relevan dengan pengalaman hidup akan membuka ruang dialog antara teks dan pembaca. Ia memungkinkan seseorang melihat dirinya dalam cermin kata-kata. Dalam konteks Lebaran, membaca bisa menjadi jalan untuk memahami kembali relasi dengan keluarga, dengan kampung halaman, dengan nilai-nilai yang selama ini terabaikan.

Membaca sastra lokal, misalnya, dapat menjadi cara untuk mengenali identitas yang kerap terpinggirkan oleh arus budaya populer. Di tengah arus globalisasi yang deras, bacaan semacam ini menghadirkan jangkar—sesuatu yang menahan manusia agar tidak tercerabut dari akar kulturalnya.

Dengan demikian, membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi meneguhkan keberadaan. Ia menjadi proses pulang—bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara batin.

Gerakan Kebudayaan

Yang dibutuhkan bukan sekadar imbauan musiman, melainkan gerakan kebudayaan yang berkelanjutan. Membaca tidak bisa dipaksakan melalui slogan. Ia harus ditumbuhkan melalui ekosistem yang hidup.

Ekosistem itu mencakup banyak hal: penerbit yang berani menerbitkan karya-karya bermutu, komunitas yang aktif mendiskusikan bacaan, sekolah yang tidak sekadar mengajarkan membaca sebagai keterampilan teknis, serta ruang publik yang memberi tempat bagi perjumpaan gagasan.

Di daerah seperti Lampung, potensi itu sebenarnya ada. Komunitas sastra tumbuh, penerbit independen bergerak, dan penulis-penulis lokal terus berkarya. Namun, tanpa dukungan yang memadai, semua itu tetap berada di pinggiran—hidup, tetapi tidak cukup kuat untuk membentuk arus utama.

Kebudayaan tidak pernah tumbuh dari pusat kekuasaan semata. Ia lahir dari pinggiran—dari suara-suara kecil yang diberi ruang untuk berkembang. Dalam konteks ini, membaca bukan hanya aktivitas individu, tetapi bagian dari proses kolektif untuk membangun kesadaran bersama.

Tanpa gerakan semacam ini, imbauan membaca akan terus berulang setiap tahun—muncul menjelang Lebaran, lalu menghilang setelahnya, tanpa meninggalkan jejak yang berarti.

Pertanyaan paling mendasar: apakah yang diinginkan adalah masyarakat yang benar-benar membaca atau sekadar masyarakat yang terlihat membaca?

Jika yang dikejar adalah citra, maka program apa pun akan cukup: rak buku di ruang tunggu, kampanye di media sosial, atau slogan yang mudah diingat. Semua itu akan menghasilkan gambaran yang indah—masyarakat yang tampak literat, setidaknya di permukaan.

Namun, jika yang diinginkan adalah tradisi membaca yang hidup, maka pendekatannya harus berbeda. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk masuk ke wilayah yang tidak selalu terlihat: membangun kebiasaan, merawat komunitas, dan menghadirkan bacaan yang benar-benar relevan dengan kehidupan pembacanya.

Membaca, pada dasarnya, bukan soal waktu luang. Ia adalah soal kedalaman hidup. Ia menuntut kesediaan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk masuk ke dalam ruang sunyi di mana kata-kata berbicara dan makna perlahan terbentuk.

Dan itu, jelas, tidak cukup dilakukan hanya saat Lebaran. ●

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *