Ilustrasi studio radio dan penyiar tahun 70-80 an, (FOTO: AI Sora)
Prolog:
Di sebuah studio radio tua di kawasan Jakarta Pusat, tangan keriput seorang lelaki berusia 78 tahun menyentuh lembut mixer lawas. Tombol-tombol kuningan itu telah ia tekan ribuan kali sejak 1972. Lelaki itu menutup matanya sejenak. Di kepalanya, lagu “Walang Kekek” dari Waljinah mengalun. Ia ingat kartu pos seharga Rp1 yang dikirimnya ke RRI Jakarta empat puluh enam tahun lalu, menunggu berminggu-minggu hingga penyiar Sazli Rais membacakan permintaan lagunya.
Tiga ratus meter dari studio itu, di lantai 27 sebuah gedung perkantoran, seorang perempuan berusia 24 tahun duduk di depan tiga layar komputer. Ia baru tiga bulan menjadi penyiar radio digital. Di layar kirinya, algoritma kecerdasan buatan menganalisis 1.500 komentar pendengar yang masuk selama satu jam terakhir. Di layar tengah, ia menulis naskah berita yang faktualnya diverifikasi otomatis oleh sistem AI. Di layar kanan, wajahnya tersiarkan langsung melalui Instagram, Facebook, dan YouTube—ia adalah penyiar yang bisa dilihat, bukan hanya didengar.
Dua generasi. Dua cara yang berbeda. Namun keduanya terikat pada gelombang yang sama: radio, media tertua penyiaran yang tak pernah benar-benar tua.
* * *
Empat hari setelah tanggal 9 Februari 2026 setelah memperingati Hari Pers Nasional (HPN), hari ini, 13 Februari 2026, dunia memperingati Hari Radio Sedunia yang ke-15. UNESCO telah menetapkan tema yang tak pernah terbayangkan saat radio pertama kali mengudara seabad lalu: “Radio and Artificial Intelligence: Innovation that Empowers, Ethics that Inspire, Trust that Endures.” Radio dan AI—dua kata yang mungkin terdengar seperti kontradiksi. Namun itu fakta masa depan yang sedang bergerak dan terus berubah.
Ini adalah kisah tentang radio. Tentang bagaimana sebuah teknologi kuno bertahan melewati revolusi industri, televisi, internet, media sosial, dan kini Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Tentang kartu pos yang berubah menjadi pesan WhatsApp, tentang penyiar yang berubah menjadi konten kreator, dan tentang gelombang elektromagnetik yang tak pernah padam.

1925 di Batavia
Mari kita mundur seratus satu tahun. Tepatnya 16 Juni 1925, di Batavia—kota yang kelak bernama Jakarta—sekelompok orang Eropa berkumpul. Mereka bukan politisi, bukan pedagang rempah, melainkan para penggemar teknologi baru yang disebut radio. Mereka mendirikan Bataviase Radio Vereniging (BRV), stasiun radio pertama di Hindia Belanda.
Pada masa itu, radio adalah mainan mahal. Sebuah pesawat radio tabung buatan Philips harganya setara dengan gaji 18 bulan buruh perkebunan. Yang bisa mendengarkan hanyalah kalangan elite Belanda dan segelintir priyayi Jawa. Siaran BRV kebanyakan musik klasik Eropa, laporan pasar saham Amsterdam, dan pengumuman sosial—siapa yang sedang mengadakan pesta dansa di Hotel Des Indes.
Tiga tahun kemudian, Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM) berdiri di Jakarta, Bandung, dan Medan. Inilah radio komersial pertama. Masyarakat yang memiliki pesawat radio harus membayar “pajak radio” kepada NIROM. Mereka yang tak membayar, petugas akan datang menyegel pesawat radionya.
Namun di balik gemerlap musik waltz dan bahasa Belanda yang mendominasi siaran, ada denyut lain yang mulai berdetak. Di Solo, Solossche Radio Vereniging (SRV) sesekali memainkan gamelan. Di Yogyakarta, Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO) menyiarkan tembang Macapat. Di Surabaya, Chineese en Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) menjadi ruang kecil bagi suara-suara pribumi. Radio, tanpa disadari kolonial, sedang menabur benih nasionalisme.
Radio Perjuangan
Tidak ada rekaman asli suara Soekarno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00. Yang ada hanyalah siaran ulang setahun kemudian. Namun di hari bersejarah itu, radio memainkan peran yang tak tergantikan.
Jusuf Ronodipoero—seorang opsir Jepang kelahiran Magelang—berhasil menyelundupkan naskah proklamasi ke ruang siaran Hoso Kyoku, radio milik pemerintah pendudukan Jepang di Jalan Merdeka Barat 4-5. Dengan suara bergetar, ia membacakan teks proklamasi ke seluruh penjuru negeri. Hanya tujuh detik. Namun tujuh detik itu mengubah segalanya.

Dua puluh empat hari kemudian, delapan orang berkumpul di rumah Adang Kadarusman, tak jauh dari gedung Hoso Kyoku. Mereka adalah Abdulrachman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi. Pukul 24.00 WIB, di ruang tamu sederhana itu, mereka sepakat: Radio Republik Indonesia lahir.
Abdulrachman Saleh, dokter muda yang juga penggemar radio, ditunjuk sebagai pemimpin pertama RRI. Ia hanya memimpin RRI selama 3 tahun. Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya ditembak jatuh Belanda di Maguwo. Jenazahnya ditemukan bersimbah darah, namun tangan kirinya masih menggenggam erat diagram pemancar radio yang tengah ia rancang.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948, mereka yakin Indonesia telah runtuh. Yogyakarta diduduki, Soekarno-Hatta diasingkan, dan seluruh stasiun RRI dihancurkan atau diambil alih. Radio Hilversum, milik Belanda, menyiarkan ke seluruh dunia: “Indonesia menyerah, Republik telah bubar”.
Belanda lupa satu hal: Aceh. Di Hutan Rimba Raya, Bener Meriah, Aceh Tengah, sebuah pemancar radio bersembunyi di balik pohon-pohon raksasa. Radio Rimba Raya—demikian namanya—adalah satu-satunya suara Indonesia yang masih mengudara. Dengan generator kecil yang dipindahkan setiap tiga hari untuk menghindari lacakan Belanda, Panglima Divisi X Gajah, Kolonel Hoesin Yoesoef, bersama prajuritnya Sultan Aman Mar, menjaga agar gelombang itu tak pernah mati.
Setiap malam, pukul 20.00, suara penyiar Radio Rimba Raya menembus hutan, menembus samudra: “Inilah siaran Radio Rimba Raya, suara Indonesia dari Aceh, menyatakan kepada dunia, Indonesia masih ada. Republik Indonesia belum bubar. Kami masih berjuang”.
Siaran itu didengar sampai Madagaskar, Suriname, Belanda. Ia sampai ke meja delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar. Radio Hilversum terbungkam. Dunia tahu, Indonesia tidak menyerah Republik Indonesia masih ada. Itulah arti keberadaan radio bagi Republik Indonesia.
Ketika Radio Menjadi Raja
Eddy Koko seorang wartawan senior yang kini mendirikan dan mengelola Radio Pensiunan (radio internet) dalam sebuat artikelnya berjudul “Minta Lagu Zaman Dulu di Radio” menceritakan kembali kenangannya tentang radio. Jika tahun 1940-an adalah era perjuangan radio, maka 1970-an hingga 1990-an adalah era kejayaannya.

Eddy Koko, yang saat itu masih remaja di Metro, Lampung, mengingat betul bagaimana radio menjadi pusat kehidupan. “Televisi sudah ada hitam putih, tapi hanya tiga atau empat rumah di kotaku yang punya. Sisanya, radio”, katanua.
Di masa itu, malam Minggu adalah ritual. Anak muda berkumpul di rumah tetangga yang memiliki radio tabung besar. Mereka menempelkan telinga ke speaker, menunggu acara “Musik Pelepas Lelah” di RRI Jakarta. Jika beruntung, permintaan lagu mereka dibacakan penyiar. Lagu “Kembali ke Jakarta” dari Koes Plus atau dari The Mercy’s, Favourits Grup, The Bee Gees, dan The Beatles akan mengalun, dan seisi ruangan ikut bernyanyi.
Pada era 70-an lahir fenomena unik yang disebut “radio amatir”. Membangun stasiun radio di masa itu bukan perkara mudah. Pemancar FM buatan pabrik harganya selangit. Maka para hobiis radio belajar merakit sendiri. Mereka membeli transistor bekas, trafo dari tukang las, dan antena dari pipa besi. Hasilnya? Siaran dengan jangkauan terbatas, kualitas suara pas-pasan, tapi semangatnya tak terbatas.
Eddy Koko mengenang masa itu, radio mempopulerkan “Acara Pilihan Pendengar” dengan sistem blangko atau formulir. Pendengar membeli dengan seharga Rp5, menulis judul lagu dan ucapan, lalu mengantarnya sendiri ke studio. Ucapan paling populer? “Salam kompak selalu”. “Bayangkan”, kata Eddy Koko, “Bersepeda ke dalam kota, membeli blangko, menulis pesan, naik sepeda lagi ke studio, pulang, duduk di depan radio, menunggu—hanya untuk mendengar satu lagu kesayangan. Repot? Sangat repot. Tapi kami lakukan dengan senang hati”.
Pada tahun 2000-an datanglah internet. Kemudian warung internet (Warnet) menjamur di setiap sudut kota. Anak muda lebih memilih chatting di mIRC daripada mendengar lagu di radio. Stasiun radio berguguran satu per satu. Yang bertahan, kebanyakan karena pemiliknya kaya raya dan menganggap radio sebagai “hobi”—bukan bisnis.
Eddy Koko menyaksikan langsung era ini. “Banyak stasiun radio tutup bukan karena teknologi, tapi karena pengelolanya kolot”, ujarnya. “Mereka menempatkan manusia yang tidak paham dan tidak suka dunia radio sebagai pimpinan. Biasanya karena hubungan keluarga”. Namun, di tengah kegelapan itu, beberapa stasiun radio memilih bertahan dengan cara berbeda. Mereka tidak melawan perubahan, tapi merangkulnya.

Pada 2005, beberapa radio besar di Jakarta mulai bereksperimen. Mereka memasang koneksi internet di studio, menyewa server, dan mulai menyiarkan ulang siaran FM mereka dalam bentuk streaming. Awalnya banyak yang skeptis. “Mendengar radio lewat internet? Bukankah internet untuk komputer, bukan untuk radio?”
Namun pelan-pelan, kebiasaan berubah. Generasi yang lahir setelah 1990 tidak lagi mengenal radio transistor. Mereka mendengar radio dari laptop, dari ponsel. Kemudian, data UNESCO pada 2015 menunjukkan jumlah pendengar radio global justru naik 3% per tahun sejak 2010. Kontradiktif? Tidak juga. Yang berubah adalah cara mendengar, bukan minat mendengar.
RRI mulai membangun portal rri.co.id. Radio swasta seperti Prambors, Hard Rock FM, dan Trijaya memiliki aplikasi sendiri. Pendengar di Jayapura bisa mendengar siaran dari Jakarta tanpa gangguan statis. Pendengar di luar negeri bisa tetap terhubung dengan lagu-lagu Indonesia.
“Radio tidak lagi selintas”, kata Eddy Koko. “Dengan website, pendengar bisa membaca ulang berita yang baru disiarkan. Ada klipingnya. Ada dokumentasinya”.
Di era ini, satu pertanyaan besar mulai muncul: jika radio bisa didengar kapan saja, di mana saja, dari perangkat apa saja—apakah ia masih bisa disebut radio?
Jawabannya, “Ya, selama ia masih menyiarkan suara, membangun koneksi emosional dengan pendengar, dan menjalankan fungsi jurnalisme. Radio bukanlah tentang perangkat. Radio adalah tentang gelombang—entah ia merambat melalui frekuensi FM atau melalui kabel fiber optik”.
Dalam perkembangannya, pada 2018, ada stasiun radio melakukan hal yang tak lazim. Mereka memasang kamera di studio dan menyiarkan langsung proses siaran melalui Instagram Live. Penyiar tak hanya berbicara, tapi juga terlihat: sedang memencet tombol, minum kopi, tertawa bersama kru.
Hasilnya? Jumlah interaksi melonjak 400% dalam tiga bulan. Inilah era baru: radio visual. Sebuah oksimoron yang menjadi kenyataan. Radio yang dulu hanya bisa didengar, kini bisa dilihat. Penyiar tak lagi sekadar suara misterius di balik speaker; mereka adalah figur publik yang bisa diajak ngobrol di kolom komentar.

Lara Hati, penyiar 24 tahun yang duduk di lantai 27 gedung perkantoran itu, adalah produk era ini. Ia tak pernah bekerja di radio analog. Pertama kali masuk studio, ia bingung melihat mixer—ia lebih familiar dengan panel digital di aplikasi editing. Lara Hati adalah penyiar yang tak pernah memegang mixer analog. Tapi ia mengenal radio lebih dalam dari kebanyakan orang. Ia paham algoritma Spotify, ia tahu cara membuat konten viral di TikTok, ia bisa membaca data pendengar dalam bentuk grafik real-time. Ia adalah generasi baru yang memastikan radio tak punah—dengan mengubah wujudnya.
Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, mengeluarkan pernyataan. “Radio adalah media yang ampuh untuk merayakan kemanusiaan dalam segala keberagamannya. Di era kecerdasan buatan, kita menghadapi pertanyaan baru: Bisakah teknologi memperkuat, bukan menggantikan, ikatan manusia yang menjadi inti radio?”
Tema Hari Radio Sedunia tahun ini—Radio dan Kecerdasan Buatan—bukan pilihan yang mudah. Sejak ChatGPT meledak pada 2023, industri kreatif dilanda ketakutan eksistensial. Jurnalis takut digantikan algoritma. Desainer takut digantikan generative AI. Penulis takut digantikan LLM.
Radio pun tak luput. Di Amerika Serikat, 2025 menjadi tahun kontroversial. Sebuah stasiun radio di Portland mengumumkan bahwa slot penyiar malam hari diisi sepenuhnya oleh AI—suara sintetis yang dirancang semirip mungkin dengan manusia. Suara itu bisa bercanda, bisa memutar lagu, bahkan bisa merespons panggilan telepon dengan jawaban yang relevan. Manajemen menyebutnya efisien. Penyiar menyebutnya pengkhianatan.
Di Indonesia, perdebatan serupa bergulir. Beberapa stasiun radio mulai menggunakan AI untuk menulis naskah berita. Lainnya menggunakan algoritma rekomendasi lagu yang dipersonalisasi. Di media sosial, diskusi memanas, “Apakah penyiar AI akan mengambil alih?”
Imang Maulana, dosen FDIKOM UIN Jakarta yang mengampu mata kuliah Produksi Radio, mengambil posisi tenang. “AI hanyalah alat”, katanya dalam sebuah seminar pada September 2025. “Bukan suara. Teknologi saja tidak membangun kepercayaan. Penyiar radio-lah yang melakukannya”.

Untuk memahami perdebatan ini, kita perlu melihat apa yang sebenarnya dilakukan AI di industri radio. Pertama: otomatisasi tugas rutin. Di era sebelum internet hadir memutar lagu adalah pekerjaan manual. Penyiar dibantu operator harus memilih piringan hitam, meletakkannya di turntable, menurunkan stylus, dan mengangkatnya kembali setelah lagu selesai. Satu kesalahan, lagu kepotong di tengah. Sekarang, AI dapat menyusun playlist berdasarkan preferensi pendengar, waktu siaran, bahkan cuaca. Hujan di Jakarta? AI akan otomatis memutar lagu-lagu slow yang cocok untuk suasana mendung.
Kedua: personalisasi. Radio tradisional menyiarkan konten yang sama untuk semua pendengar. Radio digital dengan AI dapat memberikan pengalaman berbeda untuk setiap pendengar, bahkan dalam siaran yang sama. Iklan yang didengar pendengar A bisa berbeda dengan pendengar B, berdasarkan data demografi dan riwayat mendengar.
Ketiga: verifikasi dan fact-checking. Di era disinformasi, kecepatan verifikasi menjadi krusial. AI dapat membandingkan pernyataan narasumber dengan ribuan dokumen dalam hitungan detik, memberi peringatan jika ada kejanggalan. Bukan menggantikan peran jurnalis, tapi memperkuat.
Keempat: arsip dan dokumentasi. Seperi RRI memiliki arsip siaran sejak 1945—ratusan ribu jam rekaman. Jika ada yang belum didigitalisasi, maka dengan AI, proses digitalisasi dan indeksasi arsip bisa dipercepat. Rekaman suara Bung Karno, pidato Bung Hatta, siaran Radio Rimba Raya—semua bisa diakses generasi baru dengan kualitas lebih baik.
Kelima: interaktivitas. Chatbot AI dapat menangani ribuan permintaan lagu, ucapan, dan pertanyaan pendengar secara simultan, sesuatu yang mustahil dilakukan manusia.
Namun di balik semua kemudahan itu, ada wilayah abu-abu yang belum terpetakan. Belum lagi ini selesai, pada Maret 2025, sebuah aplikasi bernama “VoiceClone” viral di Indonesia. Dengan modal 30 detik rekaman suara, aplikasi ini bisa menghasilkan suara sintetis yang hampir tak terbedakan dari aslinya. Para pengguna mulai mengkloning suara penyiar favorit mereka, membuat konten-konten yang sebenarnya tak pernah diucapkan penyiar tersebut.
Kekhawatiran segera muncul, bagaimana jika teknologi ini disalahgunakan? Seseorang bisa membuat pernyataan palsu atas nama penyiar. Berita hoaks dengan suara tokoh publik. Iklan ilegal yang seolah-olah dibacakan oleh figur terpercaya.

Rizky Widya Fadhila seorang penyiar pernah menyampaikan. Ia tak pernah membayangkan tantangan yang dihadapai seorang penyiar di era digital dan AI, Sekarang, ia harus berpikir tentang bagaimana melindungi identitas suaranya sendiri dari pencurian digital. “Suara penyiar adalah aset paling berharga”, katanya. “Jika suara penyiar bisa dikloning dan dipalsukan, kepercayaan pendengar akan runtuh. Dan kepercayaan adalah satu-satunya mata uang yang dimiliki penyiar”.
Hari Radio Sedunia yang ditetapkan UNESCO tanggal 13 September 2012 tak pernah kehabisan tema. Setiap tahun, UNESCO memilih sudut pandang berbeda untuk melihat peran radio di masyarakat. Tahun 2014: “Gender Equality and Women’s Empowerment on Radio”. Tahun itu dunia radio berbenah. Dari 173 negara yang disurvei, hanya 27% posisi manajerial di radio diisi perempuan. Angka di ruang redaksi lebih rendah: 24%. Tema ini mendorong lahirnya lebih banyak program yang diproduksi dan dipandu perempuan.
Tahun 2015: Youth and Radio. “From Youth to Youth” — generasi muda menyapa generasi muda. Radio mulai berbenah, tidak lagi memandang anak muda sebagai konsumen pasif, tapi produsen konten.
Tahun 2019 dengan tema: “Dialogue, Tolerance, and Peace” Di tahun politik, radio menjadi ruang dialog yang relatif aman. Berbeda dengan media sosial yang penuh anonimitas dan ujaran kebencian, radio menghadirkan wajah dan suara nyata.
Tema tahun 2020: “Keanekaragaman dan Pluralisme”. Tema yang dipilih saat dunia memasuki pandemi. Radio menjadi teman isolasi, jembatan di antara manusia-manusia yang terpisah jarak. Dan tahun 2026, tema AI dipilih bukan karena teknologi ini paling canggih, tapi karena ia paling mendasar. AI mengubah cara radio dibuat, disiarkan, dan didengar. Ia menyentuh esensi radio itu sendiri.
UNESCO, dalam dokumen tema 2026, mengingatkan: “AI harus menjadi alat untuk memperkuat keragaman, bukan mempersempitnya. Untuk membuka ruang, bukan menutupnya.” Salam untuk semua yang percaya bahwa suara manusia tak akan pernah tergantikan. This response is AI-generated, for reference only.
Selamat Hari Radio Sedunia (World Radio Day) (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.





