Home / News / “ALIR”, Pameran Tunggal Lukisan Afnan Malay: Ketika Puisi Mengalir ke Kanvas

“ALIR”, Pameran Tunggal Lukisan Afnan Malay: Ketika Puisi Mengalir ke Kanvas

Budayawan Taufik Rahzen membuka pameran lukisan Afnan Malay. (FOTO: Christian Saputro)

KINGDOMSRIWIJAYA, Semarang — Penyair Afnan Malay memperluas medan ekspresinya lewat pameran tunggal lukisan bertajuk ALIR yang digelar di TAN Artspace, Jalan Papandayan No. 11, Semarang, pada 8–20 Februari 2026. Pameran ini dibuka budayawan Taufik Rahzen, Ahad (8/2) dengan kurator M. Rain Rosidi.

Selama ini Afnan Malay dikenal luas sebagai penyair dengan karya-karya yang peka terhadap isu sosial, politik, dan pengalaman personal. Namun, di balik reputasinya di dunia sastra, Afnan memiliki latar pendidikan seni rupa yang kuat. Ia pernah menempuh pendidikan di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) dan melanjutkan studi di Jurusan Lukis FSRD ISI Yogyakarta, sebelum kemudian lebih dikenal melalui dunia kepenyairan.

Pameran ALIR menghadirkan rangkaian lukisan terbaru yang dikerjakan sepanjang 2025–2026. Judul ALIR tidak hanya menjadi penanda pameran, tetapi juga mencerminkan metode kerja dan sikap artistik Afnan. Jika dalam menulis puisi ia kerap memulai dari judul atau kerangka makna tertentu, dalam melukis ia justru menanggalkan narasi awal dan membiarkan proses berlangsung secara spontan dan intuitif.

Lukisan-lukisan Afnan dikerjakan dengan sapuan kuas besar, cat yang ditorehkan tebal, serta gestur yang ekspresif. Proses melukis dibiarkan mengalir, menghadirkan pertemuan warna, perubahan arah garis, dan kejutan visual yang tidak selalu direncanakan sejak awal. Dalam pendekatan ini, melukis menjadi proses penemuan, bukan penegasan makna.

BACA JUGA: https://kingdomsriwijaya.id/posts/719857/60-tahun-afnan-malay-tentang-anjing-berbukit-kabut-catatan-yang-terbakar/

Kurator pameran, M. Rain Rosidi, menempatkan ALIR sebagai praktik artistik yang menempatkan proses lebih penting daripada tujuan. Warna, tekstur, dan energi gestural bekerja lebih dahulu, sementara makna hadir belakangan sebagai hasil pembacaan ulang. Lukisan-lukisan tersebut menjadi medan terbuka tempat tubuh, intuisi, dan pengalaman batin bekerja secara bersamaan.


Afnan Malay dengan lukisannya. (FOTO: FB @Afnan Malay)

Relasi Afnan dengan karyanya juga tidak berhenti ketika lukisan dianggap selesai. Ia justru kembali mengamati karya-karyanya, menemukan kekurangan komposisi, ritme, atau garis, lalu meresponsnya dengan koreksi ringan. Dalam konteks ini, ALIR tidak berhenti pada hasil akhir, melainkan berlanjut sebagai proses pengamatan dan penilaian ulang.

Berbeda dengan puisi yang baginya selesai ketika dilepaskan kepada pembaca, melukis justru menghadirkan pengalaman menikmati karya secara berulang. Aktivitas ini juga dirasakan Afnan secara fisik. Rasa lapar yang muncul setelah melukis menjadi penanda bahwa energi tubuh dan batin telah tercurah sepenuhnya.

Sejumlah karya menonjol dalam pameran ini, di antaranya Pelukan Ibu dan Wolf, keduanya menggunakan medium akrilik di atas kanvas. Pelukan Ibu menghadirkan pengalaman afektif melalui relasi warna dan ruang, tanpa narasi figuratif yang jelas. Sementara Wolf tampil lebih liar dan dinamis, dengan garis-garis meliuk dan warna-warna yang berlapis, menghadirkan energi gerak dan naluri.

Dalam sambutannya, budayawan Taufik Rahzen menyebut ALIR bukan sekadar peristiwa estetik, melainkan gerak berpikir. Menurutnya, pameran ini membaca identitas sebagai sesuatu yang tidak final, selalu berada dalam negosiasi antara waktu, sejarah, dan konteks sosial-budaya. Seni rupa, dalam kerangka tersebut, tidak menawarkan kepastian, tetapi justru membuka pertanyaan.

Melalui pameran ALIR, Afnan Malay tidak meninggalkan dunia puisi, melainkan memperluas cara berekspresi. Jika puisi bekerja melalui bahasa dan struktur makna, lukisan memberinya ruang untuk membiarkan rasa, intuisi, dan ketidakterdugaan berbicara lebih dahulu—mengalir, bahkan tanpa harus disusul kata-kata.  (Christian Saputro – Semarang)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *