Home / Olahraga / Padel itu Olahraga atau Gaya Hidup Modern?

Padel itu Olahraga atau Gaya Hidup Modern?

KINGDOMSRIWIJAYA – Di sudut kota ini, di tengah kemacetan, jalan dan pemukiman didera menampung udara saat hujan turun, ada sebuah suara baru mulai menggema memantul dari dinding kaca dan permukaan lapangan rumput sintetis atau rumput sintetis. Bukan deru mesin pabrik atau klakson kendaraan. Suaranya terdengar melantukan irama ritmis yang memantul, “puk-puk-puk”, diikuti oleh sorak sorai dan tawa cekikikan.

Suara itu berasal dari dalam sebuah kotak kaca berwarna biru cerah, di mana empat orang berlari, melompat, dan memukul bola kuning dengan raket padat tanpa senar. Inilah “padel”, sebuah fenomena olahraga yang tiba-tiba saja merasuki kesadaran kolektif di kota ini. Mulai berkembang menjadi virus positif yang menyebar dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp , dari linimasa Instagram ke cerita kantor, menciptakan gelombang FOMO— Fear of Missing Out —yang sulit diabaikan.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah cerminan dari kebutuhan masyarakat modern akan olahraga yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menghibur, memfasilitasi sosialisasi, dan tentu saja, terlihat estetik di mata dunia maya. Nama cabang olahraga itu padel yang telah menjadi lebih dari sekadar permainan; ia adalah sebuah pernyataan, sebuah tiket masuk ke dalam komunitas yang kekinian, dan sebuah ruang di mana stres pekerjaan bisa dilepaskan bersama dengan tetesan keringat.

Padel telah merambah Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan yang pernah dikenal sebagai provinsi olahraga – pernah menjadi tempat/ penyelenggara PON, Sea Games, Islamic Solidarity Games (ISG), Asean University Games dan Asian Games – yang kini jejak-jejak dan kebesarannya mulai dihapus. Padel juga tumbuh di kota-kota lainnya di Indonesia.

Kisah popularitas padel di Indonesia dimulai bukan dari stadion megah atau program pemerintah, melainkan dari obrolan santai dan rasa penasaran. Seseorang mencoba di luar negeri, mengunggah video singkat, dan tiba-tiba saja, teman-temannya bertanya, “Itu olahraga apa? Seru banget kayaknya.” Dalam sekejap, pencarian “lapangan padel terdekat” meroket.

Para pengusaha yang tajam insting atau naluri bisnisnya segera bergerak. Lahan kosong di sini, atap gedung di sana, berubah menjadi arena-arena biru dengan dinding kaca yang mengkilap. Harga sewa yang tergolong premium, bisa mencapai ratusan ribu rupiah per jam, namun itu tidak menyurutkan niat. Sebaliknya, justru menambah daya tariknya, seolah-olah bermain padel adalah sebuah investasi untuk gaya hidup.


Demikian pula dengan perlengkapannya, dari raket, sepatu dan kostumnya harganya berkelas, untuk memilikinya perlu merogoh kantong yang dalam, sekarang bisa dibayar dengan uang digital. Bandingnya, jika raket tenis biasa sudah mahal, raket padel, dengan teknologi kompositnya yang canggih dan desainnya yang futuristis, bisa dibanderol dengan harga jutaan rupiah. Namun, bagi mereka yang terbawa arus, ini adalah harga yang pantas untuk sebuah tiket masuk ke dalam dunia yang sedang hype.

Ada pula mereka yang datang bukan karena FOMO semata, melainkan karena pencarian yang lebih dalam. Mereka adalah para pekerja kantoran yang kelelahan dengan rutinitas monoton, para ibu rumah tangga yang mencari “waktu untuk diri sendiri”, atau para anak muda yang bosan dengan gym dan futsal. Mereka semua menemukan jawabannya dalam padel sebagai sebuah cara untuk menggerakkan tubuh, melatih jantung, dan membersihkan pikiran dari beban sehari-hari.

Yang paling menakjubkan dari semua ini adalah sifat inklusif padel. Tidak seperti olahraga lain yang membutuhkan bakat atau postur tubuh tertentu, padel bisa dikuasai oleh siapa saja, dari remaja SMA hingga eksekutif senior yang sudah berusia kepala lima. Kemudahan inilah yang menjadi pilar utama ledakan popularitasnya.

Meskipun memiliki akar dari tenis lapangan, cara mainnya yang disederhanakan—servis di bawah tangan, lapangan yang lebih kecil, dan bantuan dinding—menghilangkan hambatan teknis yang seringkali membuat frustrasi pemula di olahraga raket lain. Di padel, seorang pemula bisa langsung merasakan nikmatnya rally panjang hanya dalam menit-menit pertama mereka di lapangan, sebuah rasa pencapaian instan yang sangat adiktif.

Cerita tentang padel di Indonesia sebenarnya bukan sekadar tentang olahraga. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah aktivitas fisik berhasil menembus benteng-benteng kelas sosial, mengubah cara orang berjejaring, dan menciptakan ruang baru di mana stres bisa ditendang keluar bersama bola kuning yang melambung. Dari pejabat pemerintah yang mengganti jas dengan kaos olahraga, hingga influencer yang dulunya hanya berpose di kafe-kafe estetik, kini semua berkumpul di balik pagar kaca—tempat di mana status sosial sementara dilupakan dan yang terpenting adalah seberapa cepat Anda bisa bereaksi saat bola memantul dari dinding belakang.


Sejarah Padel

Pasangan pemain padel. (FOTO: AI)

Padel pertama kali diciptakan oleh Enrique Corcuera di Acapulco, Meksiko, tahun 1969. Ia memodifikasi lapangan tenis kecil di rumahnya dengan dinding beton dan jaring, menciptakan permainan baru yang kemudian dikenal sebagai padel. Alfonso de Hohenlohe, seorang bangsawan Spanyol, membawa olahraga ini ke Marbella pada 1974.

Di Spanyol, padel berkembang pesat. Orang-orang menyukai format ganda yang lebih sosial, lapangan kecil yang lebih mudah diakses, dan permainan yang tidak menuntut kekuatan fisik sebesar tenis. Dari sana, padel menyebar ke Spanyol dan Argentina, menjadi olahraga populer di kalangan masyarakat urban.

Pada 1991, berdirilah Federación Internacional de Pádel (FIP) di Madrid, Spanyol, menandai padel sebagai olahraga resmi dengan aturan baku dan sistem kompetisi internasional.

Pada tahun 2000-an terjadi global expansion, padel mulai menyebar ke negara lain di Eropa seperti Italia, Prancis dan Swedia kemudian menyebrang ke negara di kawasan Timur Tengah. Tahun 2010-an dimulai era padel sebagai salah satu olahraga profesional. Kemudian lahirnya World Padel Tour (WPT) yang menjadikan padel olahraga profesional dengan sistem ranking dunia. Saat pandemi Covid-19 melanda dunia pada 2020, popularitas padel semakin terkenal di seluruh muka bumi. Popularitasnya justru meningkat karena dianggap olahraga aman, sosial, dan mudah dimainkan.

Tahun 2024 pertumbuhan padel semakin eksplosif. Tahun itu tercatat lebih dari 63.080 lapangan padel di dunia. Prancis mencatat pembangunan lapangan terbanyak tahun itu, sebanyak 1.272 lapangan baru. Spanyol tetap menjadi pusat padel dunia dengan jumlah lapangan dan pemain terbanyak secara keseluruhan.

Puncak even dari cabang olahraga padel di Asia akan terjadi pada 2026 ketika padel dipertandingan Asian Games XX yang akan berlangsung Aichi–Nagoya, Jepang. Padel resmi dipertandingkan sebagai cabang olahraga baru pada pesta olahraga negara-negara Asia tersebut.


Pertandingan padel. (FOTO: AI)

Filosofi padel sederhana namun genius: membuat olahraga raket mudah dipelajari, namun sulit dikuasai. Lapangan kecil (20 x 10m, sepertiga lapangan tenis) dengan dinding pemantul membuat rally bisa berlangsung lama. Bola yang boleh memantul sekali di tanah dan kemudian bisa diambil dari dinding, memperpanjang umur permainan. Sistem ganda wajib menciptakan dinamika sosial, komunikasi, dan strategi tim. Hasilnya? Pemula absolut bisa merasakan sensasi rally panjang dalam satu jam pertama. Ini adalah “demokratisasi” olahraga raket.

Padel walaupun berakar dari cabang olahraga tenis, namun tetap ada perbedaannya. Demikian pula berbeda dengan cabang olahraga squash yang sama-sama menggunakan raket dan bola. Perbedaan pada lapangan, padel lebih kecil dari lapangan tenis dan dikelilingi dinding kaca seperti squash. Kemudian raket padel menggunakan raket padat tanpa senar. Untuk format permainan atau pertandingannya, padel selalu dimainkan ganda (2 vs 2). Nah, dalam perhitungan skor, sama dengan tenis yaitu 15–30–40–game. Sementara gaya bermainnya, padel lebih menekankan strategi dan kerja sama dibanding kekuatan pukulan.

Padel di Indonesia

Di Indonesia, kapan padel masuk ke Nusantara, siapa yang memperkenalkan? Menurut catatan di jagat maya, padel masuk seperti virus yang menyenangkan sekitar 2018 – 2019, dibawa oleh ekspatriat dan orang Indonesia yang traveling ke Eropa atau Timur Tengah. Padel pada masa itu hanya dipermainkan pada komunitas-komunitas tersentu. Baru tahun 2021 padel dikenal luas di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Bermunculan klub padel di Jakarta, di antaranya ada Padel Indoor Kemang, dan The Padel Club SCBD yang awalnya hanya komunitasnya kecil dan eksklusif. Namun, setelah Pandemi Covid-19, ketika orang haus aktivitas outdoor yang aman dan menyenangkan, padel jadi pilihan dan meledak. Kemudian lapangan-lapangan baru menjamur dari Jakarta, ke Bandung, Surabaya, hingga Bali.

Pada awal diperkenalkan di Indonesia, banyak orang melihat atau pemain padel melihat sebagai olahraga yang mudah dan gampang dimainkan. Pikir mereka waktu itu seperti bermain tenis mini. Ternyata anggapan itu keliru. Strategi bermain padel berbeda dengan tenis, beda banget. Tapi padel bikin ketagihan, dalam satu jam itu pemainnya bisa banyak tertawa. Ada salah pukul, atau komunikasi sama partner kacau, sehingga melahirkan kelucuan. Atau tiba-tiba ada satu poin rally panjang yang bikin semua berteriak. “Itu seperti mendapat dopamine murni. Sekarang, jadwal main padel sudah seperti rapat tetap di kalender saya”, kata seorang pecandu padel yang mengaku tidak ingin disebut atlet padel.


Raket, bola dan lapangan padel. (FOTO: AI)

Data lain dari olahraga padel yang sedang menjadi tren besar di Indonesia menyebutkan, olahraga ini dibawa oleh sekelompok ekspatriat dan pengusaha ke Indonesia dengan tokoh kunci Simon Pierre, seorang warga negara Prancis, bersama rekannya yang kemudian mendirikan Perkumpulan Padel Indonesia (PPI). Lapangan padel pertama dibangun di Bali, tepatnya di wilayah Canggu. Nama klub padel pertama di Indonesia adalah Bale Padel. Simon bersama rekannya kemudian mendirikan Perkumpulan Padel Indonesia (PPI).

Mengapa di Bali? Bali adalah titik awal karena ekosistem gaya hidup sehat dan komunitas internasionalnya yang sangat kuat di sini. Setelah sukses di Bali, tren ini kemudian dengan cepat merambah ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Saat ini, padel di Indonesia sudah berada di bawah naungan resmi PBPI (Pengurus Besar Padel Indonesia) yang diakui oleh KONI.

Walau PBPI telah menjadi anggota KONI namun cabang olahraga padel belum masuk belum dipertandingan di PON atau SEA Games yang berlangsung di Bangkok, Thailand tahun 2025. Namun pada tahun 2025 Indonesia membentuk Tim Nasional Padel dan menjadi tuan rumah FIP Bronze Jakarta.

Gaya Hidup

Walau diakui sebagai cabang olahraga, ada juga yang menganggap padel adalah salah gaya hidup kaum urban. Padel memang bukan hanya olahraga, ia juga menjadi gaya hidup. Di kota-kota besar, lapangan padel hadir di kompleks premium, mal, hingga hotel. Bermain padel bukan sekadar berolahraga, melainkan juga bersosialisasi, networking, dan bagian dari identitas urban.

Demikian pula dengan ekosistem komunitasnya. Banyaknya komunitas yang terbuka dan dukungan dari para selebriti/influencer memperkuat citra padel sebagai gaya hidup urban yang aktif dan trendi.

Padel sebagai gaya hidup modern adalah simbol sosialita dan elite. Ada yang beranggapan padel sebagai aktivitas “gaul” baru di kalangan selebriti dan profesional urban, menggantikan golf atau tenis.


Kemudian dari aspek estetika & fashion terlihat outfit padel yang modis dan raket bermerek menjadi bagian dari penampilan. Pada sebagai ajang networking atau menjadi sarana untuk memperluas koneksi profesional dan bisnis. 

Padel adalah perpaduan olahraga dan gaya hidup. Padel adalah olahraga raket intensitas tinggi yang mudah dipelajari (campuran tenis dan squash) dan fenomena gaya hidup modern (lifestyle) yang sosial, stylish, serta populer di kalangan urban. Tren ini menggabungkan manfaat fisik —membakar 400 – 600 kalori per jam— dengan aspek sosial seperti hangout, membangun jaringan bisnis, dan konten media sosial. Kesimpulannya, Padel bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan gerakan gaya hidup sehat berbasis komunitas yang didukung oleh infrastruktur olahraga yang serius.

Atau Padel bertransformasi menjadi simbol status dan ruang sosial baru atau social fitness boom. Padel bukan sekadar mencari keringat, tapi juga tempat networking, nongkrong, dan membuat konten media sosial bagi Gen Z dan Millennial. Kemudian dari aspek tren properti & bisnis di Indonesia, kini menguasai 51% pasar lapangan padel di ASEAN. Ini menunjukkan masifnya investasi di fasilitas olahraga ini.

Sebagai gaya hidup ini gambaran ongkos yang harus dikeluarkan untuk bemain Padel.  Untuk bermain atau menjadi atlet padel membutuhkan investasi alias modal yang tidak kecil. Mungkin bagi sebagian orang investasi tersebut relatif lebih terjangkau dibanding tenis. Untuk raket padel ada pada kisaran harga Rp1,5 juta – Rp5 juta, tergantung merek dan kualitas. Sepatu padel harganya antara Rp1 juta – Rp2,5 juta, dengan sol khusus untuk lapangan kaca.

Kemudian kostum atau outfit padel berkisar Rp500 ribu – Rp1,5 juta per set. Sewa lapangan ada pada haraga Rp250 ribu – Rp400 ribu per jam di fasilitas premium. Jika menjadi membership klub merogoh kocel antara Rp3 juta – Rp10 juta per tahun, tergantung fasilitas. Total investasi awal seorang atlet bisa mencapai Rp10 juta – Rp20 juta, belum termasuk biaya pelatihan dan turnamen.

Masih berminat bemain padel? Padel bukan sekadar permainan raket. Ia adalah fenomena global yang merupakan perpaduan antara olahraga dan gaya hidup modern dan bagian dari gaya hidup urban sekaligus peluang bisnis yang menjanjikan. Padel adalah perpaduan unik antara olahraga kompetitif dan gaya hidup modern yang sedang meledak di Indonesia dan akan terus meledak pada 2026 ini. (maspril aries) 

# Konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *