KINGDOMSRIWIJAYA, Tanjung Enim – Di bawah langit Tanjung Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) yang mulai menyapa Januari 2026 dengan semilir angin pengharapan, sebuah perayaan tak biasa sedang berlangsung. Tak ada dentum kembang api yang memekakkan telinga, tak ada pesta pora yang menggelegar. Yang ada hanyalah deru halus mesin kendaraan dan senyum tulus yang terpancar dari wajah-wajah yang lelah namun penuh syukur.
Tahun ini, PT Satria Bahana Sarana (PT SBS) genap menginjak usia sebelas tahun. Sebuah angka yang bukan sekadar penanda waktu, melainkan monumen ketangguhan bagi sebuah perusahaan yang bergerak di kerasnya industri pertambangan. Namun, alih-alih merayakannya di dalam gedung mewah yang dingin, manajemen PT SBS memilih kembali ke akar: menyapa bumi dan manusia yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Dalam keterangan pers PT SBS, Senin (19/1), Agung Pratama, Direktur Utama PT SBS, tampil dengan raut wajah yang teduh, hadir langsung membagikan kado ulang tahun berupa hewan sapi ke Yayasan Mutiara dan Yayasan Tabiyaturohaniah di Kecamatan Lawang Kidul, datang dengan satu niat tulus, berbagi kebahagiaan. Baginya, angka sebelas bukan hanya tentang target produksi atau grafik laba yang menanjak. Ada tanggung jawab moral yang melampaui angka-angka di atas kertas.
“Ulang tahun adalah momen refleksi”, barangkali itulah yang terbersit di benaknya saat menyerahkan bantuan sapi kepada pengurus yayasan. Sapi-sapi itu bukan sekadar hewan ternak, melainkan simbol pengorbanan dan keinginan untuk memberi manfaat bagi sesama.
Di mata anak-anak yatim dan para pengurus yayasan, kehadiran Agung dan staf karyawan PT SBS adalah embun di tengah terik. Penyerahan bantuan ini menjadi pembuka dari rangkaian panjang “Ekspedisi Kebaikan” PT SBS di hari jadinya yang ke-11.
Kebahagiaan itu menular. Tidak berhenti di satu titik, aliran syukur ini terus mengalir deras ke sudut-sudut lain di Kabupaten Muara Enim.

Di Lawang Kidul, di sudut lain Kabupaten Muara Enim, tepatnya di Pondok Pesantren Darussa’adah dan Panti Asuhan Assa’adah Muara Enim, gema syukur yang sama juga terdengar. Erwin, Project Manager Unit TAL PT SBS, hadir mewakili manajemen dengan langkah mantap.
Di sana, suara riuh rendah santri dan doa-doa yang dilantunkan pelan menciptakan atmosfer yang magis. Saat bantuan sapi diserahkan, ada binar mata yang tak bisa dibohongi. Bagi lembaga-lembaga sosial ini, perhatian dari perusahaan sebesar PT SBS adalah pengakuan bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam membina umat dan mengasuh tunas bangsa.
Erwin, yang sehari-harinya akrab dengan alat berat dan debu tambang, tampak luluh dalam suasana hangat penuh kekeluargaan tersebut. Baginya dan bagi perusahaan, berbagi adalah cara untuk “mencuci” setiap peluh karyawan SBS yang jatuh di lapangan agar berubah menjadi berkah.
Tak jauh dari pusat operasional, Desa Darmo di Kecamatan Lawang Kidul juga menjadi saksi bisu dari kedermawanan ini. Di sini, Dian Wahyu Permadi, Manajer Sumber Daya Manusia Operasional PT SBS, turun langsung menemui masyarakat.
Desa Darmo bukan sekadar tetangga bagi PT SBS; mereka adalah bagian dari napas perusahaan. Hubungan antara korporasi dan masyarakat desa adalah simbiosis yang harus terus dirawat dengan rasa saling memiliki. Penyerahan sapi kepada masyarakat desa ini menjadi pesan kuat bahwa PT SBS ingin tumbuh besar bersama lingkungan sekitarnya, bukan menjadi menara gading yang menjulang sendirian tanpa peduli pada tanah yang dipijaknya.
Harapan yang Melangit
Di balik setiap penyerahan bantuan tersebut, terselip sebuah harapan sederhana namun mendalam. PT SBS tidak hanya meminta doa untuk kelancaran operasional, tetapi juga memohon restu semesta agar keberadaan mereka membawa kemaslahatan yang langgeng.

Gito Siswanto, Humas PT SBSB yang menjadi jembatan komunikasi antara perusahaan dan dunia luar, merangkum semua harapan itu dengan kalimat yang menyentuh. Baginya, setiap bantuan yang keluar dari gerbang perusahaan adalah investasi doa yang tak ternilai harganya.
“Semoga PT Satria Bahana Sarana tambah maju, dilancarkan produksinya”, ujar Gito dengan nada penuh optimisme. Namun, ia tidak berhenti pada urusan korporasi semata. Ada doa tulus untuk mereka yang berada di garis depan perjuangan perusahaan. “Semoga para karyawannya selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam setiap beraktivitas menjalankan pekerjaan di perusahaan”.
Kalimat itu bukan sekadar jargon. Di industri yang penuh risiko, keselamatan adalah segalanya. Dan doa dari mulut orang-orang yang terbantu—para yatim, santri, dan penduduk desa—diyakini sebagai perisai tak kasat mata yang akan menjaga setiap langkah karyawan PT SBS saat menambang di perut bumi.
Sebelas tahun adalah usia yang cukup dewasa untuk memahami bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita ambil, melainkan seberapa banyak yang kita beri. PT Satria Bahana Sarana telah memilih jalannya sendiri dalam merayakan eksistensi.
Mereka memilih untuk membumi, menyebarkan kebaikan melalui hewan-hewan kurban yang kelak akan dinikmati dagingnya oleh mereka yang membutuhkan. Ada filosofi mendalam dalam bantuan sapi ini: tentang kekuatan, tentang kerja keras, dan tentang kesediaan untuk dikurbankan demi kepentingan yang lebih besar.
Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat Muara Enim, meninggalkan rona jingga di atas tambang-tambang batu bara, PT SBS menutup hari ulang tahunnya dengan hati yang lapang. Sebelas ekor sapi mungkin hanya angka, namun kebahagiaan yang dipicunya akan terus bersemi dalam ingatan masyarakat.
Perjalanan PT SBS masih panjang. Tantangan di tahun-tahun mendatang tentu tidak akan lebih mudah. Namun, dengan fondasi syukur dan kepedulian sosial yang kuat, perusahaan ini tampaknya telah menemukan rahasia untuk tetap tegap berdiri: bahwa untuk terus melangit, seseorang—atau sebuah perusahaan—harus berani tetap membumi dan berbagi.
Selamat ulang tahun ke-11, PT Satria Bahana Sarana. Teruslah menambang berkah di setiap jengkal tanah yang kau pijak. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.






