Oleh: AI
KINGDOMSRIWIJAYA – DI negara tetangga sedang ramai membicarakan sistem pemilihan kepala daerah alias pilkada. Pilihannya ada dua, pilkada langsung atau pilkada melalui parlemen daerah yang isinya wakil rakyat. Walau pilkada baru akan berlangsung beberapa tahun ke depan, namun wacana tentang pilihan itu sudah ramai.
Berbeda yang terjadi di kota Sumber Rejeki, sebuah kota kecil yang terletak di negara sebelah yang perbatasannya dipisahkan sungai, di sepanjang tepi sungai berdiri tembok beton walau tidak setinggi tembok Berlin yang sudah runtuh atau sepanjang tembok Cina. Di Sumber Rezeki Pilkada sedang memasuki masa yang krusial. Pilkada tahun ini menjadi ajang pertarungan politik paling panas yang pernah terjadi di kota itu. Dua calon bersaing untuk menduduki kursi kekuasaan tertinggi di kota ini. Calonnya, Rahmat Adigung calon petahana yang sudah dua periode menjabat, dan Andi Prakoso Jaya, calon muda yang bertekad membawa perubahan bagi masyarakat.
Wali Kota Rahmat dikenal sebagai sosok yang ramah, dengan senyum yang selalu tersungging di wajahnya setiap kali muncul di hadapan publik. Namun, di balik keramahan itu, desas-desus tentang korupsi dan kecurangan sudah lama menjadi pembicaraan di warung-warung kopi kota Sumber Rezeki. Satu kata yang sering disebut dalam pembicaraan warga adalah “gentong babi.”
Gentong babi bukanlah istilah yang asing di kota ini. Konon, istilah itu sudah ada sejak lama, digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan dana gelap yang disimpan oleh para pejabat korup. Dalam Pilkada kali ini, gentong babi menjadi lebih dari sekadar rumor. Bagi sebagian besar warga, istilah itu menjadi simbol dari kecurangan, permainan uang, dan politik licik yang telah lama menggerogoti kota mereka.
Penantang Rahmat Adigung, Andi Prakoso seorang pengusaha muda yang baru kembali ke Sumber Rejeki setelah menempuh pendidikan di luar negeri. Dengan visi dan idealisme yang kuat, dia percaya bahwa kota ini membutuhkan perubahan drastis. Selama dua periode kekuasaan Pak Rahmat, pembangunan memang tampak berjalan, namun kesenjangan ekonomi semakin lebar. Banyak proyek yang terbengkalai, dan warga miskin semakin sulit untuk mengakses layanan publik.
Andi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota dengan slogan “Perubahan Nyata”. Kampanyenya didukung oleh kaum muda dan masyarakat kelas menengah yang jenuh dengan pemerintahan lama. Namun, di balik dukungan yang mengalir, Andi menyadari bahwa ada rintangan besar di depannya—kekuasaan Pak Rahmat tidak bisa dianggap remeh.

Sepekan sebelum waktu Debat Pilkada, saat tim kampanyenya tengah menyusun strategi untuk debat, seorang pria paruh baya datang mengetuk pintu markas pasangan Andi Prakoso – Dodo Amin Cuan. Pria itu tampak gugup, dan saat dia diperkenalkan sebagai Joni, mantan staf Pemerintah Kota Sumber Rejeki. Andi memandang ke wajah Joni, dari sorot matanya mengisyaratkan merasakan ada sesuatu yang besar akan disampaikan.
“Saya harus bicara, Mas Andi”, kata Joni dengan suara pelan namun tegas. “Ini tentang gentong babi”.
Andi mengernyitkan dahi. “Gentong babi? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Joni menjelaskan dengan detail tentang bagaimana selama bertahun-tahun, ada aliran dana gelap yang disimpan oleh orang-orang di lingkaran Wali Kota Rahmat. Dana itu berasal dari mark-up proyek-proyek pemerintah, suap dari pengusaha, dan sumbangan gelap yang tak tercatat. Semua dana tersebut masuk ke dalam rekening yang mereka sebut sebagai “gentong babi” —rekening yang dibuat untuk menyembunyikan uang hasil korupsi dan disalurkan saat diperlukan, terutama saat pemilu.
“Sekarang, gentong babi itu sedang aktif digunakan untuk membeli suara”, kata Joni. “Mereka akan membayar warga untuk memilih Pak Rahmat. Semuanya sudah diatur”.
Andi merasa darahnya mendidih mendengar cerita itu. Dia tahu bahwa dalam politik selalu ada permainan kotor, tapi dia tidak menyangka bahwa skala kecurangan ini begitu besar. Jika yang dikatakan Joni benar, maka perjuangannya bukan hanya untuk memenangkan Pilkada, tetapi untuk melawan korupsi yang sudah mengakar.
* * *
Hari pemilihan semakin dekat, dan rumor tentang gentong babi semakin santer terdengar. Namun, tak ada bukti konkret yang bisa mengaitkan Pak Rahmat dengan dana gelap tersebut. Bagi masyarakat biasa, isu gentong babi hanya sebatas gosip, sesuatu yang mereka anggap mungkin benar, tapi sulit dibuktikan.
Sementara itu, Pak Rahmat dan tim kampanyenya semakin percaya diri. Dalam berbagai survei, namanya masih unggul tipis di atas Andi Prakoso. Kepercayaan ini sebagian besar berkat bantuan dari jaringan luas yang telah dia bangun selama bertahun-tahun. Para pengusaha besar dan pejabat daerah yang loyal kepadanya menjadi penopang utama kampanyenya.

Di malam sebelum pemilihan, Joni kembali menemui Andi. “Malam ini mereka akan memindahkan uang dari gentong babi ke beberapa titik di kota”, katanya dengan tegas. “Saya punya informasi bahwa di gudang lama di pinggiran kota, mereka akan menyiapkan uang tunai untuk dibagikan besok pagi”.
Andi melihat ini sebagai kesempatan untuk menggagalkan konspirasi tersebut. Dengan cepat, dia mengatur rencana untuk mendokumentasikan aksi tersebut dan menyerahkan bukti kepada pihak berwenang. Jika dia bisa membuktikan adanya kecurangan, maka kemenangan Pak Rahmat bisa dihentikan.
Namun, rencana Andi tidak berjalan semulus yang diharapkan. Timnya berhasil menyusup ke gudang dan merekam beberapa orang sedang membawa tas-tas penuh uang. Sayangnya, salah satu orang dalam tim tersebut membuat kesalahan kecil—lampu senter yang tiba-tiba menyala menarik perhatian penjaga. Tim Andi segera ketahuan, dan terjadi kejar-kejaran sengit.
Untungnya, meskipun mereka harus meninggalkan tempat kejadian dengan cepat, mereka berhasil mendapatkan rekaman video yang cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ada sejumlah besar uang tunai yang sedang dipersiapkan untuk operasi politik uang.
Hari pencoblosan tiba, dan hasilnya sangat tipis. Pak Rahmat melalui perhitungsn cepat mendeklarasikan sebagai pemenang dengan selisih suara yang hanya berbeda sekitar dua persen. Warga pendukung Andi kecewa, sementara tim Pak Rahmat merayakan kemenangan mereka. Setelah perhitungan riil dilakukan Komisi Pilkada, pasangan Rahmat Adigung – Ardhi Godek diputuskan sebagai pemenang Pilkada Kota Sumber Rezeki.
Namun, Andi tidak tinggal diam. Dengan bukti rekaman yang mereka dapatkan, dia segera mengajukan gugatan ke Bawaslu Kota Sumber Rezeki. Proses hukum pun dimulai. Pihak calon petahana Rahmat dengan tegas membantah semua tuduhan, menyebut bahwa rekaman yang disajikan oleh tim Andi hanyalah rekayasa.
Sidang berjalan sengit. Para pengacara Pak Rahmat berusaha meruntuhkan kredibilitas bukti yang dibawa oleh Andi, sementara tim Andi berusaha meyakinkan hakim bahwa gentong babi adalah konspirasi nyata yang telah merusak demokrasi di Kota Sumber Rejeki selama bertahun-tahun.

Joni, sebagai saksi kunci, dihadapkan dengan tekanan yang luar biasa. Pihak Pak Rahmat berusaha mendiskreditkan kesaksiannya, bahkan ada laporan bahwa Joni dan keluarganya mendapat ancaman. Namun, Joni tetap teguh pada pendiriannya.
“Saya tidak peduli apa yang mereka katakan”, kata Joni dalam persidangan. “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana uang itu dipindahkan. Ini bukan pertama kalinya mereka melakukannya”.
Proses sidang berlangsung selama berminggu-minggu dan mendapat perhatian dari media massa nasional, meliput gugatan hasil Pilkada Kota Sumber Rezeki. Masyarakat seluruh kota dan daerah tetangga mulai memperhatikan. Kasus gentong babi di Sumber Rejeki menjadi simbol perlawanan terhadap politik uang dan korupsi di negara sebelah.
Namun, pada akhirnya, meskipun bukti-bukti yang dikumpulkan cukup kuat, pengadilan memutuskan untuk tidak membatalkan hasil pemilihan. Hakim menyatakan bahwa meskipun ada bukti-bukti adanya aliran uang, tidak ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa kecurangan itu mempengaruhi hasil pemilihan secara signifikan.
Pak Rahmat tetap dilantik sebagai Wali Kota Sumber Rejeki untuk periode ketiga. Bagi sebagian besar warga, ini adalah akhir yang mengecewakan. Meskipun mereka tahu ada kecurangan, sistem politik tampaknya masih melindungi para pelakunya.
Andi, meskipun kalah di pengadilan, tetap berkomitmen untuk melanjutkan perjuangannya. Dia dan timnya mulai membentuk gerakan masyarakat untuk melawan korupsi dan politik uang di tingkat lokal. Mereka menyadari bahwa perjuangan ini tidak akan mudah, tetapi gentong babi tidak bisa dibiarkan terus menguasai politik di Sumber Rejeki.
Gentong babi masih ada, tersembunyi di balik sistem yang sudah terpolarisasi. Gentong babi tetap ada, tersembunyi di balik senyum kemenangan yang korup. Namun, benih-benih perubahan telah ditanam. Dan meskipun hasilnya belum terlihat, harapan untuk masa depan yang lebih bersih dan adil masih terus menyala di hati para pejuang keadilan di Kota Sumber Rejeki.
TAMAT.
Penyunting: Maspril Aries






