Home / Budaya / Orang yang Tidak Pernah Kami Kenal

Orang yang Tidak Pernah Kami Kenal

Oleh: AI

1

Bangun tidur pagi ini kepala ku terasa nyeri. Seperti ada sesuatu yang belum selesai semalam lalu memilih tinggal di dalam ubun-ubunku. Cahaya matahari menembus tirai tipis rumah kontrakan yang kutempati sejak tujuh tahun lalu, jatuh tepat di lantai ruang tamu yang dingin dan kusam. Di luar, suara sapu lidi beradu dengan tanah, bunyi yang selalu sama setiap pagi, seolah kampung ini tidak pernah belajar bunyi lain untuk menandai awal hari.

Namaku Elvano Dharma Virendra. Empat puluh lima tahun. Pernah mengajar pendidikan kewarganegaraan di sekolah menengah pertama negeri di kota kecil ini sebelum akhirnya berhenti—atau lebih tepatnya, berhenti diurus oleh sistem. Aku sering di panggil “Dharma” atau “Pak Dharma”, Kini aku hidup dari menulis laporan proyek untuk LSM kecil dan sesekali menjadi editor naskah pesanan mahasiswa.

Aku tidak pernah membayangkan hidup akan berjalan sejauh ini, sendirian, nyaris tak terlihat, dan pelan-pelan merasa menjadi bagian dari dinding.

Pagi itu seharusnya tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Tapi kota kecil selalu menyimpan sesuatu yang menunggu waktu untuk meledak.

2

Aku baru melangkah keluar rumah ketika sebuah benda keras menghantam wajahku. Tak ada aba-aba. Tak ada peringatan. Hanya bunyi denting pendek, seperti logam bertemu tulang.

Aku terjatuh ke tanah. Dunia berputar. Bau besi segera memenuhi hidungku. Darah mengalir dari alis kanan, hangat, lengket.

Di trotoar, sebuah kaleng minuman penyok menggelinding pelan lalu berhenti di dekat kakiku.

Aku menoleh. Tak jauh dari situ, seseorang berlari. Tubuhnya kurus, hampir seperti bayangan. Kausnya terlalu besar, celananya menggantung longgar, seolah ia hidup di tubuh yang bukan miliknya. Amarah naik tanpa sempat kusebut namanya. Aku berdiri sempoyongan, darah menetes dari wajah. Amarah mendidih tanpa sempat aku saring. Dalam hidup yang serba kalah ini, ternyata masih ada ruang bagi penghinaan.

Aku bangkit dan mengejar.

“Hei siapa kamu?” teriakku.

Tak ada jawaban. Hanya langkah kaki yang berlari menjauh.

Aku terus mengejar.

3

Kami berlari menyusuri gang sempit di belakang pasar lama—gang yang selalu lembap dan berbau sisa sayuran busuk. Langkahnya terpincang-pincang. Nafasnya terdengar seperti peluit bocor. Aku menangkapnya di ujung gang, tepat di depan tembok penuh coretan yang tak lagi terbaca.

Tanganku mencengkeram kerah bajunya. Tubuhnya bergetar.


“Ampun, Pak”, katanya lirih. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. “Ampun!”

Aku melihat wajahnya. Wajah yang terlalu tua untuk usianya, atau terlalu muda untuk kelelahan yang dibawanya. Matanya cekung, kulitnya kusam, bibirnya pecah-pecah.

Aku hendak berkata sesuatu—entah apa—ketika suara langkah kaki datang dari belakang.

Satu. Dua. Banyak.

4

Orang-orang muncul seperti dipanggil oleh satu kesepakatan tak tertulis. Mereka datang seperti air bah. Ada ibu-ibu dengan daster, lelaki berkaus singlet, pemuda berambut gondrong, bahkan anak-anak yang masih menggenggam layangan. Wajah mereka berlapis rasa ingin tahu, dendam lama, dan kelelahan yang tak sempat mereka beri nama.

Pintu-pintu rumah terbuka. Kepala-kepala menoleh. Tubuh-tubuh mendekat.

“Kenapa?” seseorang bertanya.

“Dia lempar saya”, kataku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Kalimat itu rupanya cukup.

“Dia memang sering begitu!”

“Pencuri!”

“Perampok!”

Kata-kata itu terlempar begitu saja, tanpa verifikasi, tanpa ragu. Lelaki kurus di hadapanku berlutut. Tangannya terangkat menutupi kepala.

Aku melepaskan cengkeramanku. Tapi massa sudah bergerak.

“Dia itu, Pak!” teriak seseorang.

“Pencuri!”

“Perampok!”

Aku terdiam. Kata-kata itu beterbangan di udara seperti panah. Lelaki kurus itu menangis, lututnya gemetar, tubuhnya menggigil.

Aku melepaskan kerah bajunya. Tapi terlambat.

Seseorang memukul dari belakang.

Lalu yang lain menyusul

5

Aku mundur beberapa langkah, darah masih mengalir di wajahku, perih bercampur pening. Tapi yang kulihat di hadapanku jauh lebih menyakitkan. Seseorang meninju lelaki itu dari samping. Tendangan menghujani rusuknya. Tubuhnya terhuyung lalu jatuh. Tendangan menyusul. Sebatang kayu entah dari mana menghantam punggungnya.

Ia menjerit. Suara itu tajam, lalu patah.

Aku ingin menghentikan mereka. Aku benar-benar ingin. Tapi kakiku seperti tertanam di tanah.

Dalam kerumunan itu, aku melihat wajah-wajah yang kukenal, tukang sayur, tukang ojek, ibu yang biasa menyapaku setiap pagi. Mereka bukan monster. Mereka hanya manusia yang kelelahan.  Dan justru itu yang paling menakutkan.


6

Teriakan mulai berubah. Bukan lagi tentang kaleng atau luka di wajahku. Tapi tentang panen yang gagal. Tentang uang yang hilang. Tentang anak yang putus sekolah. Tentang rumah yang bocor dan utang yang tak lunas.

Lelaki itu menjadi wadah. Segala kemarahan ditumpahkan ke tubuhnya.

Aku merasa pusing. Bukan karena luka, tapi karena kesadaran bahwa sesuatu sedang runtuh, perlahan tapi pasti.

Ketika seseorang akhirnya berteriak, “Sudah!”, tubuh itu tak lagi bergerak.

Sunyi jatuh. Sejenak. Lalu bisik-bisik menggantikan teriakan.

7

Aku pulang dengan langkah goyah. Rumah kontrakanku terasa lebih sempit dari biasanya. Darah di alisku masih mengalir pelan. Aku mencuci wajah di kamar mandi, Air mengalir membawa darah ke lubang pembuangan, lalu  membalut luka dengan kain seadanya, duduk di lantai.

Di cermin, aku melihat diriku sendiri, seorang pria dengan perban seadanya di wajah, mata merah, dan ekspresi yang tak bisa lagi disebut marah.

Di luar, suara orang masih terdengar. Mereka membicarakan kejadian itu dengan nada lega. Seolah-olah sesuatu telah diselesaikan.

Padahal tidak.

Malam itu aku tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat tubuh itu tergeletak di tanah. Wajahnya muncul dalam mimpi, tapi selalu tanpa suara.

8

Keesokan harinya, beberapa orang datang. Mereka duduk di ruang tamuku tanpa basa-basi.

“Pak Dharma”, kata seorang di antara mereka, seorang pria berambut tipis yang sering memimpin rapat RT. “Kami harap Bapak tidak membawa ini ke mana-mana”.

“Membawa apa?” tanyaku.

“Peristiwa kemarin.”

Aku tertawa pendek. “Peristiwa?” kataku. “Seseorang mati”.

Ia menghela napas. “Kami tidak ingin masalah.”

Masalah, pikirku. Kata itu terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang begitu berat.


9

Hari-hari berlalu. Tak ada polisi. Tak ada berita. Tak ada pertanyaan.

Tempat kejadian dibersihkan. Jalan kembali dilalui anak-anak sekolah. Pasar kembali ramai.

Seolah-olah kota ini sepakat untuk lupa.

Aku tidak bisa.

Setiap kali melewati gang itu, langkahku melambat. Setiap kali melihat kerumunan, jantungku berdebar lebih cepat.

Aku mulai menulis. Bukan laporan. Bukan artikel. Tapi catatan-catatan pendek yang tak pernah selesai. Tentang orang yang tidak pernah kami kenal.

10

Suatu malam, aku bermimpi. Lelaki itu berdiri di depan rumahku. Tubuhnya bersih. Wajahnya utuh.

“Kau tidak memukulku”, katanya.

Aku ingin menjawab, tapi suaraku tak keluar.

“Kau juga tidak menghentikan mereka”, katanya lagi.

Aku terbangun dengan keringat dingin.

11

Beberapa minggu kemudian, hujan turun deras. Di gang belakang pasar, air mengalir membawa sampah, daun, dan entah apa lagi.

Aku berdiri di sana lama, memandangi aspal yang dulu menjadi saksi. Tak ada tanda. Tak ada bekas.

Sejarah memang mudah dihapus. Tapi ingatan tidak.

Aku menunduk, menyentuh tanah yang basah.

Entah kenapa, aku merasa sedang menyentuh diriku sendiri.

12

Aku menulis cerita ini bukan untuk menuduh.

Aku menulisnya karena aku takut suatu hari nanti, aku akan berdiri di kerumunan yang sama, dengan alasan yang sama, dan kembali memilih diam.

Dan diam, aku tahu sekarang, bukanlah posisi netral.

Diam adalah keputusan.

TAMAT

Penyusun: Maspril Aries

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *