Home / Budaya / Di Bawah Bayang Algoritma

Di Bawah Bayang Algoritma

Oleh: AI

Pada pagi ketika hujan turun tidak deras, tidak pula berhenti, Raka Wicaksana datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Gedung tempat ia bekerja berdiri di tengah kawasan bisnis Kota Jagandus, menjulang dengan kaca-kaca tinggi yang memantulkan langit kelabu seperti layar mati.

Raka sudah bekerja di perusahaan itu selama dua puluh dua tahun.

Ia hafal bunyi lift yang sedikit tersendat di lantai tujuh. Ia tahu jam berapa lampu koridor diredupkan dan jam berapa mesin fotokopi mulai berisik. Ia mengenal aroma ruangan akuntansi—campuran kertas lama, kopi instan, dan pendingin udara yang terlalu dingin. Semua itu bukan sekadar tempat kerja. Itu adalah hidupnya yang dirawat perlahan, hari demi hari.

Di lantai 40 Gedung Cyber-Nexus di jantung kota, derum server terdengar seperti detak jantung raksasa yang tak pernah tidur. Bagi Raka, suara itu adalah lagu lama yang menemaninya selama lebih dari dua dekade.

Raka bukan seorang lulusan universitas ternama di negeri ini, atau insinyur perangkat lunak dari Silicon Valley. Dua puluh tahun lalu, dia hanyalah seorang petugas kebersihan kerennya “office boy” yang bertugas mengelap debu di ruang server dan memastikan kabel-kabel tidak digigit tikus. Namun, di perusahaan logistik “Nusantara Flow” ini, nama Raka adalah legenda hidup yang perlahan mulai dilupakan, tertimbun oleh kilau layar sentuh dan jargon-jargon Artificial Intelligence atau AI.

Lini masa Raka adalah catatan harian bukti ketekunan manusia analog. Dulu, ketika perusahaan ini masih bermarkas di ruko lembab, Raka selalu menyapu lantai dengan dedikasi yang nyaris religius. Namun, matanya selalu mencuri pandang ke arah layar monitor tabung yang menampilkan deretan angka stok barang di atas meja.

Sian itu, manajer operasional saat itu, Pak Gunawan, tampak frustrasi. Staf administrasi data, Bu Ratna, mendadak mengundurkan diri karena sakit, meninggalkan tumpukan faktur yang kacau. Perusahaan butuh pengganti, tapi anggaran sedang tipis untuk mencarai karyawan baru.

“Raka, kalau tugasmu di gudang sudah selesai, coba kau rapikan meja ini”, perintah Pak Gunawan kala itu.


Ruang kerja dengan Algoritma, (FOTO: AI)

Raka tidak hanya merapikan meja. Malam harinya, saat kantor sepi, dia memberanikan diri menyentuh keyboard. Dia telah belajar secara otodidak. Setiap gaji bulanannya ia sisihkan untuk kursus komputer malam dan membeli buku-buku pemrograman dasar di pasar loak.

Ketika Pak Gunawan menemukan bahwa Raka telah membereskan neraca gudang yang berantakan dengan rumus Excel yang rapi, dia terperangah.

“Kamu belajar dari mana?” tanya Pak Gunawan.

“Saya kursus, Pak. Sudah lulus sertifikasi dasar”, jawab Raka malu-malu.

Sejak hari itu, sapu dan kain pel diletakkan. Raka diangkat menjadi staf input data. Gajinya naik, status sosialnya terangkat. Dia menikah dengan Laras, wanita yang setia menemaninya dari nol, dan dikaruniai tiga orang anak yang cerdas. Raka percaya, loyalitas dan kompetensi adalah mata uang yang tak akan pernah mengalami inflasi.

Tahun berganti. Usia Manajer Operasional Gunawan terus bertambah dan memasuki masa purna tugas. Perusahan logistik Nusantara Flow kini dipimpin oleh manajer yang baru bernama Adrian, seorang CEO muda yang ambisius dan terobsesi pada efisiensi digital. Baginya, input data manual dianggap purba. Perusahaan mulai mengadopsi Machine Learning.

Raka yang telah menjadi Kepala Divisi Data Logistik, merasa posisinya aman. Dia tahu seluk-beluk sistem perusahaan melebihi siapa pun. Dia tahu bug mana yang harus dihindari dan klien mana yang butuh penanganan khusus. Dia adalah “manusia database”.

Namun, badai itu datang juga, bukan berupa awan hitam atau angin kencang melainkan seorang anak muda bernama Julian. Julian masuk ke kantor dengan sepatu sneakers seharga motor dan laptop berlogo buah tergigit. Manajer Adrian memperkenalkan Julian bukan sebagai staf biasa, tapi sebagai Lead Digital Transformation Officer. Entah jabatan apa yang banyak karyawan tidak mengerti sehingga menimbulkan bisik-bisik di pantry semakin kencang. Adalah fakta bahwa Julian adalah adik ipar Adrian sendiri.

“Pak Raka”, kata Manajer Adrian di ruang rapat kaca yang dingin. “Ini Julian. Dia lulusan bootcamp coding ternama. Mulai besok, dia yang akan memimpin integrasi sistem AI kita. Saya harap Bapak bisa membimbingnya, tapi secara struktural, dia akan mengambil alih komando strategi”.


Algoritma bekerja. (FOTO: AI)

Raka seperti tak percaya dengan ucapan itu, hatinya getir, rasa pahit masuk ke tenggorokannya. Julian masih sangat muda, wajahnya licin tanpa guratan pengalaman kerja. Pendidikannya bahkan bukan dari teknik informatika murni, melainkan desain grafis yang banting setir ke dunia tech.

“Siap, Pak Adrian”, jawab Raka menelan kepahitannya bulat-bulat.

Bagi Raka lambat laun merasakan bekerja dengan Julian adalah mimpi buruk yang terbungkus istilah futuristik. Julian gemar melempar istilah seperti Big Data, Blockchain, dan Neural Networks, tapi dia gagap saat menghadapi error sederhana pada basis data SQL perusahaan.

Rapat-rapat mulai dipenuhi istilah asing, machine learning, automated audit, predictive accounting. Julian kerap datang ke ruang rapat dengan laptop tipis dan presentasi penuh grafik warna-warni. Dia berbicara tentang efisiensi, kecepatan, dan masa depan. Raka mendengarkan. Ia mencatat. Namun ada satu kata yang jarang diucapkan dengan lantang: pengurangan tenaga kerja.

Sistem AI yang dibanggakan Julian sering kali “berhalusinasi” — mengirim kontainer ikan segar ke toko elektronik, atau memesan truk kosong ke gudang yang sudah penuh. Siapa yang membereskan error itu? Raka Wicaksana.

Setiap kali sistem crash, Julian akan panik dengan wajah merah padam, lalu diam-diam melimpahkan tugas perbaikan kepada Raka.

“Pak Raka, tolong handle ya, saya ada meeting dengan vendor”, katanya menjadi alasan klasik Julian.

Raka mengerjakan semuanya. Dia memperbaiki algoritma yang rusak, melakukan coding ulang manual, hingga memastikan laporan bulanan tetap hijau. Namun, setiap kali presentasi di depan direksi, Julian-lah yang berdiri di podium, menerima tepuk tangan atas “efisiensi sistem baru”.

Bekerja di antara anak muda, Raka merasa semakin tua, semakin lelah. Teman-temannya sesama karyawan lama sering berbisik di kantin.

“Wah, Pak Raka ini malaikat. Kerjaan bos dikerjain semua. Harusnya Bapak yang jadi VP Teknologi”, celetuk seorang karyawan.

“Ah, sudahlah. Yang penting perusahaan jalan, anak saya bisa sekolah”, jawab sambil menikmati makan siangnya, nasi soto. Padahal, jauh di lubuk hatinya, dia berharap Manajer Adrian melihat kebenaran itu. Bahwa tanpa Raka, Julian hanyalah casing kosong.


Bekerja di bawah algoritma. (FOTO: AI)

Dua bulan berlalu dengan pola yang menyiksa itu. Tiba-tiba tersiar kabar mengejutkan. Julian mengundurkan diri. Desas-desus menyebar cepat melalui grup WhatsApp kantor. Kabarnya, Julian terlibat konflik keluarga. Kakaknya yang menjadi istri Adrian menggugat cerai, dan imbasnya, Julian “ditendang” dari perusahaan keluarga itu.

Kantor menjadi hening sejenak, lalu riuh rendah ucapan selamat tertuju pada Raka. “Nah, ini saatnya, Pak Raka. Siapa lagi yang menggantikan Julian kalau bukan Bapak?” kata rekan kerjanya. “Selama ini kan Bapak yang mengerjakan semuanya. User akses, password admin, semua di tangan Bapak. Sudah pantas Bapak naik jabatan”, kata Wahyu yang menjadi bawahan langsung Raka.

Raka tersenyum tipis, tapi hatinya berbunga-bunga. Bayangan kenaikan gaji menari di pelupuk mata. Anak sulungnya sebentar lagi masuk kuliah kedokteran, biayanya selangit. Kenaikan jabatan ini bukan sekadar gengsi, ini adalah nyawa bagi masa depan keluarganya. Raka berdoa, semoga keadilan datang dan berpihak kepadanya.

Dua minggu setelah kepergian Julian, jabatan itu masih kosong belum ada pengganti. Raka masih di jabatan semula sebagai Kepala Divisi Data Logistik. Siang itu, telepon mejanya berdering, Raka mengangkatnya, di seberang terdengar suara Manajer Adrian yang memintanya datang ke ruangan CEO.

Jantung Raka berdegup kencang. Ia merapikan kemejanya, menyisir sisa rambutnya yang mulai memutih. Langkahnya mantap. Ia siap menerima amanah itu. Ia ingin membuktikan bahwa loyalitas 20 tahun lebih berharga daripada koneksi keluarga.

Raka mengetuk pintu.

“Masuk”, kata suara Adrian terdengar berat.

Di dalam ruangan yang dingin itu, Adrian tidak sendiri. Duduk di depan mejanya seorang anak muda. Usianya bahkan terlihat lebih muda dari Julian. Dia mengenakan kacamata tebal, menatap tablet dengan acuh tak acuh.

“Silakan duduk, Pak Raka. Kenalkan, ini Reza”, kata Adrian.

Tangan Raka yang tadinya hendak menjabat, terhenti di udara sejenak sebelum Reza menyambutnya dengan lemah.


Aksi PHK dampak disrupsi IT. (FOTO: AI)

“Reza ini lulusan S2 Artificial Intelligence dari luar negeri. Dia baru saja menyelesaikan tesis tentang Autonomous Supply Chain. Dia masih kerabat jauh istri saya. Dan saya rasa visinya sangat cocok untuk memimpin divisi ini ke era 5.0”, ujar Pak Adrian tanpa rasa bersalah.

Lagi-lagi keluarga dari istri baru Manajer Adrian. Lagi-lagi anak muda tanpa pengalaman lapangan. Latar belakang pendidikan Reza bahkan bukan orang keuangan atau logistik, dia orang teknis murni dari Fakultas Teknik yang bicara bahasa mesin, bukan bahasa manusia.

“Pak Raka. Mulai besok Reza akan menjadi Head of AI Operations. Bapak tolong bantu dia memahami data historis kita, ya. Biar Reza yang pegang strategi, Bapak urus arsip lama saja”, kata Adrian bernada perintah.

“Baik, Pak. Terima kasih…”, kata Raka. Suaranya serak, tercekat di tenggorokan. Dia memegang dahinya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.

“Bapak sakit?” tanya Adrian basa-basi.

“Ya, tidak enak badan. Saya permisi, Pak”” jawab Raka terus berlalu ke luar dari ruangan yang dingin.

Kali ini, Raka tidak bisa menjadi stoik. Hatinya hancur. Bukan karena dia gila jabatan, tapi karena harga dirinya diinjak-injak oleh nepotisme yang berlindung di balik topeng “inovasi teknologi”.

Raka mulai sering absen. Dia sakit—bukan fisik, tapi jiwanya tertekan. Dia tidak bisa lagi melihat layar komputer tanpa merasa mual. Dia membayangkan Reza, si anak baru itu, mengacak-acak sistem yang telah dia bangun dengan keringat darah selama puluhan tahun.

Reza, dengan arogansi akademisnya, memutuskan bahwa peran manusia dalam verifikasi data adalah “inefisiensi”. Dia memasang algoritma Black Box—sebuah AI otonom yang mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia.

“Kita tidak butuh lagi staf senior yang hanya mengandalkan intuisi,” kata Reza dalam sebuah rapat yang tidak dihadiri Raka.


Aksi PHK dampak disrupsi IT. (FOTO: AI)

Beberapa hari kemudian, Raka dipanggil lagi Manajer Adrian. Kali ini nadanya berbeda. Lebih formal. Lebih dingin. Raka datang dengan langkah gontai. Dia melihat Reza duduk di sana, tapi kali ini Reza tidak menatap tabletnya. Dia menatap Raka dengan tatapan kasihan yang merendahkan.

“Begini, Pak Raka”, Adrian memulai tanpa basa-basi. “Perusahaan sedang melakukan pivot. Sistem AI yang dibawa Reza sudah bisa berjalan otomatis, autonomous. Algoritma ini bisa melakukan pekerjaan 10 orang staf data sekaligus dalam hitungan detik”.

Raka diam. Dia tahu kemana muara dari pembicaraan ini.

“Reza telah melakukan audit efisiensi. Posisi Kepala Divisi Data Logistik atau Senior Data Supervisor yang Bapak pegang dinilai redundant, berlebih. Tidak ada lagi tugas manual yang perlu dikerjakan”.

Raka menatap manajernya yang dulu kerap memujinya saat dirinya membereskan kekacauan oleh Julian. Tapi pujian di dunia korporat ternyata tak lebih dari angin lalu, tak membekas, tak mengubah kedudukan.

“Jadi, maksud Bapak?” tanya Raka, suaranya bergetar.

“Maaf, Pak Raka. Tak ada jalan lain”, ujar Adrian dan tangannya Adrian menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja marmer itu. “Ini pesangon Bapak. Sesuai peraturan, bahkan kami tambahkan bonus sebagai tanda terima kasih atas pengabdian 20 tahun. Terimalah uang ini, sekali lagi maaf lahir batin…”.

Raka menatap amplop itu. Di dalamnya ada angka-angka. Uang PHK. Uang penukar harga diri. Uang yang memisahkan dirinya dari rutinitas yang telah menjadi napasnya selama separuh hidupnya.

Di era disrupsi ini, pengalaman dan jam terbang Raka dianggap usang. Dia seperti mesin uap di era kereta listrik. Dia digantikan bukan hanya karena Reza adalah kerabat bos, tapi karena Reza membawa “dewa” baru bernama Algoritma, yang tidak butuh gaji bulanan, tidak butuh cuti hamil, dan tidak punya perasaan.


PHK dampak disrupsi IT. (FOTO: AI)

Raka mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Dia berdiri, menatap Manajer Adrian dan Reza bergantian. Tidak ada kemarahan yang meledak. Hanya kehampaan.

“Semoga sukses dengan robot-robotnya, Pak”, bisik Raka.

Dia berjalan keluar ruangan terus melangkah menjauh gedung pencakar langit itu. Matahari Kota Jagandus masih bersinar terik, menyilaukan mata, tapi bagi Raka, dunia terasa gelap gulita. Di saku celananya, amplop “Uang PHK” itu terasa panas membakar kulit, sebuah tanda bahwa di masa depan yang serba digital, manusia hanyalah baris kode yang bisa dihapus kapan saja tombol delete ditekan.

Setelah hari-hari pertama pasca-PHK berlalu, Raka mulai memahami bahwa kehilangan pekerjaan bukan hanya kehilangan penghasilan. Ia adalah kehilangan ritme hidup. Pagi tidak lagi dimulai dengan alarm yang sama. Tidak ada lagi kartu identitas yang digantung di leher. Tidak ada lagi meja kerja yang menunggu disentuh. Yang paling menyakitkan bukanlah kosongnya waktu, melainkan perasaan tidak lagi diperlukan.

Suatu hari, anaknya bertanya, “Ayah kalah sama robot, ya?”

Pertanyaan itu menusuk, tapi Raka tidak marah. “Bukan kalah,” katanya pelan. “Ayah sedang mencari cara baru.”

Gedung kantor Nusantara Flow tetap berdiri megah. Sistem AI mereka dipuji di banyak media. Laporan keuangan mereka rapi, cepat, nyaris tanpa kesalahan. Namun di balik grafik pertumbuhan, ada nama-nama yang tidak lagi tercatat. Raka adalah salah satunya.

Raka tidak menjadi tokoh revolusi. Ia tidak memimpin protes. Ia hanya manusia biasa yang belajar menerima bahwa dunia bergerak lebih cepat dari tubuhnya.

Malam itu Raka menutup laptop dan menatap jendela. Lampu-lampu kota berkelip seperti server yang tidak pernah tidur.  Ia sadar satu hal, disrupsi tidak selalu menghancurkan dengan suara keras—kadang ia hanya mematikan lampu satu per satu, tanpa permisi. Dan manusia, seperti Raka, harus belajar menyalakan cahaya lain—di tempat yang tidak lagi dikenali mesin.

TAMAT.

Penyusun: Maspril Aries

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *