KINGDOMSRIWIJAYA, Jakarta – Beberapa hari lagi pergantian tahun segera tiba, dari tahun 2025 ke tahun 2026. Biasanya pada malam pergantian tahun, langit akan berubah menjadi kanvas raksasa yang tercoreng asap dan kilatan cahaya.
Dentumannya memekakkan telinga, bersahutan dengan raung klakson dan sorak-sorai manusia yang tumpah ruah di jalanan. Bau mesiu yang hangus bercampur dengan aroma jagung bakar dan keringat ribuan orang. Begitulah potret klasik malam pergantian tahun yang selama puluhan tahun terpatri dalam memori kolektif kita. Jutaan, bahkan miliaran rupiah, dibakar di angkasa hanya dalam hitungan menit demi sebuah euforia sesaat menyambut angka kalender yang berubah.
Kini, menyongsong pergantian tahun 2025 menuju 2026 ini, atmosfer terasa sedikit berbeda. Ada kesadaran kolektif yang mulai tumbuh, didorong oleh keprihatinan sosial dan ketegasan regulasi dari para pemangku kebijakan. Langit di beberapa kota, seperti Jakarta dan Palembang mungkin akan sedikit lebih gelap dari biasanya. Namun di ibu kota negara, di sudut Jakarta Timur ada sebuah cahaya lain—cahaya spiritual—sedang bersiap untuk dinyalakan.
Tahun ini, imbauan untuk tidak merayakan tahun baru secara berlebihan bergema dari berbagai daerah dan terdengar lebih nyaring dari biasanya. Pemerintah daerah di berbagai penjuru Indonesia seolah sepakat menarik “rem darurat” atas tradisi hura-hura yang kerap menyisakan tumpukan sampah dan masalah sosial.
Oase di Masjid Agung At-Tin
Lantas, ke mana kaki harus melangkah jika jalanan protokol ditutup dan kembang api dilarang? Apakah pergantian tahun harus dilewati dengan kesunyian yang membosankan?
Jawabannya hadir dari kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Di bawah kubah megah Masjid Agung At-Tin, Yayasan Rumah Berkah Nusantara menawarkan sebuah “pesta” yang berbeda. Bukan pesta yang membakar uang, melainkan perhelatan yang membakar semangat spiritual bertajuk “Indonesia Berzikir”

Ustaz Syahruddin El Fikri Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara, memahami kegelisahan masyarakat yang mencari alternatif perayaan. Ia menyadari bahwa manusia pada dasarnya butuh komunalitas—butuh berkumpul dan merayakan momen.
“Kebiasaan menyalakan kembang api pada malam pergantian tahun memang hampir tak terpisahkan dari perayaan masyarakat. Jutaan orang menyambut tahun baru dengan pesta. Kami di sini tidak hadir untuk menghakimi. Kami hadir untuk menawarkan pilihan. Sebuah pilihan yang lebih reflektif dan bermakna”, kata ujar Syahruddin pada keterangan pers, Ahad (28/12).
Ketua Majelis Zikir Az-Zikra, KH. Muhammad Abdul Syukur Yusuf menyampaikan bahwa momentum pergantian tahun seharusnya diisi dengan kegiatan yang membawa kebaikan dan perbaikan diri. “Sudahi kegiatan berhura-hura. Mari kita bermuhasabah dan mengisi tahun baru dengan berzikir, memperbanyak tilawah Alqur’an, serta bersalawat kepada Nabi”, katanya.
Kiai Abdul Syukur, bahwa muhasabah merupakan sarana untuk memperbaiki kualitas diri dan kehidupan ke depan. “Kita semua sudah terlalu banyak berbuat dosa. Jangan sampai karena dosa dan kemaksiatan merajalela, kita lalai mengingat dan bahkan menjauh dari Allah. Mari kita mendekatkan diri kepada-Nya”, tegasnya.
Kegiatan yang digagas Rumah Berkah, bekerjasama dengan Majelis Zikir Az-Zikra dan Masjid Agung At-Tin ini, bukanlah acara “dadakan” yang hanya berlangsung satu-dua jam menjelang tengah malam. Ini adalah festival kebaikan yang digelar selama dua hari penuh, 30–31 Desember 2025.
Lebih dari Sekadar Duduk Bersila
Stigma bahwa acara keagamaan malam tahun baru itu “kaku” dan “membosankan” coba dipatahkan oleh panitia. Syahruddin merancang “Indonesia Berzikir” sebagai puncak dari rangkaian kegiatan sosial, edukatif, dan spiritual yang dinamis.
Bayangkan suasana ini di pelataran masjid, riuh rendah kegembiraan anak-anak yatim dan dhuafa terdengar saat mereka mengikuti khitanan massal. Ada senyum lega dari orang tua mereka, serta tawa ceria saat pembagian santunan. Di sudut lain, para pecinta literasi berkumpul dalam bazar buku, sementara aroma sedap dari bazar UMKM kuliner menggoda selera para pengunjung yang datang bersama keluarga.

“Ada diskusi kuliner, diskusi parenting untuk keluarga muda, hingga belajar ngaji Alquran dengan metode cepat 30 menit. Kami juga mengadakan diskusi buku dan kepenulisan. Jadi, ini paket lengkap. Puncaknya, barulah kita masuk ke inti spiritualitas, yaitu Indonesia Berzikir sebagai puncak dari rangkaian kegiatan sosial, edukatif, dan spiritual yang digelar selama dua hari”, Syahruddin.
Pada “Indonesia Berzikir” tahun ini akan diikuti sejumlah tokoh nasional yang menyatakan kesediaannya untuk hadir. Ada Menteri Agama Nasaruddin Umar, Komisioner BAZNAS RI KH. Noor Achmad, KH. Manarul Hidayat dari PBNU, KH. Cholil Nafis dari MUI, serta KH. Adrian Mafatihallah Kariem dari Pondok Pesantren La Tansa dan tentunya ribuan jemaah.
Empati untuk Negeri
Di balik kemeriahan acara edukatif dan zikir tersebut, terselip pesan kemanusiaan yang mendalam. Syahruddin, yang latar belakangnya sebagai jurnalis membuatnya peka terhadap isu sosial, mengingatkan kita pada realitas pahit yang sedang menimpa saudara sebangsa.
“Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat saat ini sedang membutuhkan uluran tangan. Alangkah bijaksananya jika dana yang biasanya digunakan untuk membeli kembang api dialihkan untuk membantu mereka yang sedang tertimpa musibah”, ujarnya.
Bencana alam—banjir dan longsor—yang melanda wilayah-wilayah tersebut di penghujung 2025 menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang berniat membakar uang untuk kembang api. Ini logika ini sangat masuk akal. Harga satu paket kembang api ukuran sedang bisa setara dengan paket sembako yang bisa menghidupi satu keluarga pengungsi selama seminggu.
Indonesia Berzikir bukan hanya mengajak orang mendekat kepada Tuhan, tetapi juga mendekat kepada kemanusiaan.
Malam tanggal 31 Desember 2025 nanti, pilihan ada di tangan kita. Kita bisa saja tetap memaksakan diri mencari celah untuk menyalakan kembang api sembunyi-sembunyi, atau mengeluh karena jalanan ditutup. Namun, tawaran dari Masjid Agung At-Tin terdengar jauh lebih menenteramkan. Bayangkan menutup tahun bukan dengan asap yang menyesakkan dada, melainkan dengan lantunan zikir yang menyejukkan jiwa. Bayangkan memulai detik pertama tahun 2026 bukan dengan teriakan hampa, melainkan dengan doa tulus bersama ribuan saudara sebangsa.
Ketika kembang api dilarang meledak di langit, biarkan doa-doa kita yang melesat menembus pintu langit. Di Indonesia Berzikir, tahun baru dirayakan dengan cara yang oleh sebagian orang dianggap kuno sekaligus paling modern: kembali ke dalam diri, untuk menemukan kekuatan menghadapi masa depan. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.






