
Oleh: Najib (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya)
Desember tinggal beberapa hari lagi, playlist beranda lagu “November Rain” dipastikan akan tergantikan oleh “libur telah tiba”. Siapa sih diantara kita yang tidak mengenal dua lagu fenomenal tersebut? “November Rain” dari Guns N’ Roses mengisahkan tentang cinta, kehilangan, dan harapan dalam sebuah hubungan yang rumit, sedangkan “Libur telah tiba” dari Tasya Kamila mengisahkan suasana hati yang bahagia karena libur telah tiba.
Eitss.. tapi kita tidak sedang membicarakan lagu. Merencanakan liburan bukan hanya tentang apa yang akan anda lakukan, tetapi juga perlu membuat daftar "apa yang perlu anda tidak dilakukan". Tujuanya tidak lain adalah agar tercapainya sebuah ekspektasi yang tepat selama kita melakukan liburan.
Mengambil cuti seharusnya menjadi momen bagi seseorang untuk memulihkan energi, menjernihkan pikiran, dan mengurangi tekanan yang menumpuk selama bekerja. Namun pada kenyataannya, banyak orang justru merasa stres menjelang atau bahkan selama liburan. Stres ini sering muncul karena ekspektasi yang tidak realistis, perencanaan yang berlebihan, atau ketidakjelasan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Oleh karena itu, strategi menghilangkan stres saat mengambil cuti tidak hanya bergantung pada apa yang ingin dilakukan, tetapi juga pada apa yang tidak ingin dilakukan selama liburan.
Penelitian mengenai recovery experiences oleh Sonnentag dan Fritz (2007) menunjukkan bahwa pemulihan psikologis paling efektif terjadi ketika individu mampu melepaskan diri secara mental dari tuntutan pekerjaan. Psychological detachment, atau kemampuan memisahkan diri dari pikiran tentang pekerjaan merupakan komponen penting dalam mengurangi kelelahan, meningkatkan kepuasan hidup, dan memulihkan energi. Namun, proses ini tidak terjadi secara otomatis, dibutuhkan strategi yang dirancang dengan sengaja.

Salah satu pendekatan yang kini banyak direkomendasikan oleh pakar perilaku organisasi adalah membuat daftar “not-to-do list” sebelum berlibur. Jika to-do list membantu seseorang merencanakan aktivitas, maka not-to-do list membantu menetapkan batasan atau boundary setting untuk melindungi kesehatan mental selama liburan. Dengan menetapkan daftar hal yang tidak boleh dilakukan, maka individu dapat menjaga ekspektasi yang realistis dan menghindari pola pikir yang memicu stres.
Secara psikologis, menetapkan batasan tersebut membantu otak memutus hubungan dengan pola kerja rutin. Misalnya, keputusan untuk tidak membuka email kantor, tidak membaca grup WhatsApp pekerjaan, atau tidak menyentuh dokumen proyek apa pun selama liburan dapat memperkuat proses detachment. Menurut teori boundary management dari Clark (2000), individu yang mampu memisahkan domain pekerjaan dan non pekerjaan secara jelas cenderung memiliki well being yang lebih baik. Hal ini relevan terutama bagi pekerja modern yang sering terjebak dalam budaya “selalu tersedia”.
Selain itu, membuat not-to-do list juga dapat mengurangi tekanan sosial yang muncul ketika seseorang merasa “harus” memaksimalkan liburan dengan serangkaian aktivitas. Banyak orang merencanakan liburan secara berlebihan hingga jadwalnya lebih padat dari hari kerja. Akibatnya, liburan berubah menjadi sumber kelelahan baru. Dengan menentukan hal-hal yang tidak akan dilakukan, misalnya tidak mengejar terlalu banyak destinasi, tidak memaksakan aktivitas fisik berlebihan, atau tidak menghabiskan waktu dengan orang-orang yang menguras energi, maka liburan menjadi lebih bermakna dan menenangkan.

Dalam konteks kesehatan mental, penetapan batasan ini juga sejalan dengan konsep self regulation, di mana individu secara sadar mengelola perilaku dan pilihan mereka untuk mencapai kesejahteraan optimal. Liburan yang dirancang dengan sadar bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi untuk memulihkan diri sendiri, terbukti memiliki dampak signifikan pada pengurangan stres dan peningkatan kebahagiaan (Pressman et al., 2019).
Dengan demikian, cara efektif menghilangkan stres saat mengambil cuti bukan hanya bergantung pada tempat yang dikunjungi atau aktivitas yang dilakukan. Kuncinya adalah terletak pada kemampuan untuk merencanakan batasan dan membuat daftar “tidak dilakukan” yang memandu bagaimana liburan dijalani. Ketika ekspektasi telah dikelola dengan baik, dan ketika seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk benar-benar beristirahat, liburan dapat menjalankan perannya sebagai proses pemulihan yang utuh baik secara fisik, emosional, maupun mental.
Menghilangkan stres saat mengambil cuti bukan hanya soal memilih destinasi yang tepat atau merencanakan itinerary yang menarik. Hal yang jauh lebih penting adalah membuat daftar not-to-do. Dengan hal ini, kita memberi diri sendiri izin untuk beristirahat tanpa rasa bersalah dan menciptakan pengalaman liburan yang benar-benar memulihkan. Lalu rasakan bagaimana kualitas istirahat Anda meningkat secara signifikan. ●




