Home / Lingkungan / Dukung Aksi Iklim Berkelanjutan, PTBA Raih Penghargaan Pembina Desa Proklim 2025

Dukung Aksi Iklim Berkelanjutan, PTBA Raih Penghargaan Pembina Desa Proklim 2025

PLTS Irigasi Karang Raja yang dibangun PTBA Tbk. (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWROK, PalembangPT Bukit Asam (PTBA) Tbk kembali mencatatkan namanya di buku keberlanjutan nasional. Perusahaan tambang batu bara yang berpusat di Tanjung Enim, sukses meraih Penghargaan Kategori Pembina Desa Proklim 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas peran aktif dan konkret PTBA dalam membina Desa Karang Raja menjadi model kawasan yang bersih, tangguh, dan berkelanjutan.

Penyerahan penghargaan berlangsung di Venue Kebon Gede, Palembang, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Pencapaian ini menempatkan PTBA sebagai salah satu lokomotif transformasi lingkungan di tingkat tapak. Melalui serangkaian program, perusahaan ini membuktikan bahwa operasional bisnis dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan—khususnya dalam menghadapi tantangan krisis iklim global.

“Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan PTBA dalam membina Desa Karang Raja menjadi desa bersih, tangguh, dan berkelanjutan melalui berbagai aksi mitigasi pengurangan emisi gas rumah kaca serta adaptasi terhadap perubahan iklim, sejalan dengan semangat Program Kampung Iklim atau Proklim”, kata Sustainability Division Head PTBA, Dedy Saptaria Rosa, Jumat (14/11).

Salah satu inisiatif PTBA yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat desa yakni Pembangunan PLTS Irigasi di Desa Karang Raja. Program ini mengubah pola tanam petani dari hanya 1 sampai 2 kali panen menjadi 3 kali panen per tahun, sekaligus berkontribusi menekan emisi karbon dan mendukung cita-cita Net Zero Emission 2060.

Di desa Karang Raja, perusahaan plat merah ini secara aktif melakukan pembinaan pertanian organik yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. PTBA juga melakukan pemasangan biopori dan penanaman pohon di kawasan rawan banjir dan longsor sebagai bentuk kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.


PLTS Irigasi Karang Raja yang dibangun PTBA Tbk. (FOTO: Humas PTBA)
PLTS Irigasi Karang Raja yang dibangun PTBA Tbk. (FOTO: Humas PTBA)

Sementara itu Desa Karang Raja juga dianugerahi penghargaan kategori pelaksana program, sebagai pengakuan atas aksi nyata warganya yang konsisten menjaga lingkungan.

Menurut Dedy Saptaria Rosa, melalui kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak, PTBA berupaya menjadikan desa binaan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat pembelajaran bagi masa depan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

“Kami sadar, bumi tidak butuh kita untuk bertahan, tetapi kitalah yang membutuhkan bumi untuk hidup. Karena itu, setiap langkah kecil yang kami ambil adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab terhadap alam”, katanya.

Dedy juga menegaskan bahwa bagi PTBA, penghargaan ini adalah pengingat bahwa konsistensi adalah kunci. “Konsistensi dalam menerapkan prinsip keberlanjutan di setiap lini usaha dan program pemberdayaan masyarakat inilah yang juga membawa PTBA meraih berbagai penghargaan lingkungan, termasuk Proper Award yang telah mereka peroleh selama lebih dari satu dekade”, ujarnya.

Penghargaan Pembina Desa Proklim 2025 bagi PTBA adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara korporasi, masyarakat, dan pemerintah dapat menghasilkan model pembangunan berkelanjutan yang resilien, produktif, dan siap menghadapi tantangan iklim di masa depan.

Desa Proklim: Benteng Ketahanan Iklim di Tingkat Desa

Untuk memahami nilai dari penghargaan yang diraih PTBA, perlu untuk tahu apa sebenarnya Program Kampung Iklim, atau disingkat Proklim? Desa Proklim adalah sebuah program nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam melakukan upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim secara berkelanjutan.

Inti dari Proklim adalah pengakuan terhadap desa, kelurahan, atau komunitas yang telah melaksanakan upaya adaptasi (menyesuaikan diri) dan mitigasi (mengurangi penyebab) perubahan iklim secara terpadu di wilayahnya. Desa Proklim berfungsi sebagai benteng ketahanan iklim di tingkat akar rumput, di mana masyarakat secara sadar dan mandiri mengelola risiko lingkungan yang mereka hadapi.


Piagan Penghargaan Kategori Pembina Desa Proklim 202. (FOTO: Humas PTBA)
Piagan Penghargaan Kategori Pembina Desa Proklim 202. (FOTO: Humas PTBA)

Program Desa Proklim bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam isu perubahan iklim. Tujuan berikutnya, mengembangkan kapasitas masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, dan memonitor aksi adaptasi dan mitigasi; dan memberikan pengakuan atas upaya nyata yang dilakukan masyarakat di tingkat lokal.

Penghargaan yang diterima PTBA didasarkan pada keberhasilan mereka dalam membimbing Desa Karang Raja melaksanakan berbagai aksi iklim yang terbagi dalam dua pilar utama: Mitigasi dan Adaptasi. Aksi Mitigasi dengan menekan emisi gas rumah kaca (GRK) yang menjadi penyebab utama perubahan iklim.

Inisiatif PTBA yang paling menonjol di Desa Karang Raja adalah pembangunan PLTS Irigasi. Ini adalah inisiatif kunci yang memberikan dampak ganda berupa penekanan emisi dengan mengganti sumber energi irigasi tradisional (yang mungkin menggunakan generator berbahan bakar fosil) dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara signifikan menekan emisi karbon. Hal ini sejalan dengan cita-cita Net Zero Emission 2060 Indonesia.

PLTS ini juga meningkatan produktivitas melalui sistem irigasi bertenaga surya ini mengubah pola tanam petani di Desa Karang Raja, dari yang hanya bisa panen 1 sampai 2 kali menjadi 3 kali panen per tahun. Peningkatan hasil ini tidak hanya memberdayakan ekonomi lokal tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi hijau dapat menjadi solusi praktis dan bernilai ekonomi tinggi.

PTBA juga melakukan pembinaan pertanian organik dengan mendorong praktik pertanian tanpa atau minim penggunaan pupuk kimia. Pupuk kimia (terutama yang mengandung nitrogen) dapat melepaskan dinitrogen oksida, gas rumah kaca yang sangat kuat. Dengan beralih ke pertanian organik, PTBA membantu mengurangi jejak emisi pertanian desa.

Kontribusi BUMN PTBA ini menunjukkan komitmen kolektif sektor negara dalam mendukung agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia di bawah kerangka perjanjian iklim global. (maspril aries)

Tagged: