Home / Wisata / Ratu Dewa Ingin Ada Kampung Tematik di Palembang

Ratu Dewa Ingin Ada Kampung Tematik di Palembang

KINGDOMSRIWIJAYA – Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Senin, 19 Mei 2025 berkunjung ke Kampus Universitas Sriwijaya (Unsri) di Bukit Besar. Ratu Dewa bertemu langsung dengan Rektor Unsri Taufik Marwa.

Dalam pertemuan tersebut, Ratu Dewa menyampaikan beberapa program pemerintah kota yang akan berkolaborasi dengan Unsri, salah satunya Program Kampung Tematik. “Program Kampung Tematik sangat baik untuk pembelajaran dan destinasi wisata. Kampung Tematik adalah pemukiman yang akan dikembangkan dengan ciri khas tertentu, dan kita akan menciptakan suasana yang religius”, katanya.

Menanggapi hal tersebut, Taufik Marwa menyatakan kesiapannya untuk mendukung program Pemerintah Kota. “Kita siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kota,” ungkapnya.

Setelah membaca berita pertemuan Wali Kota Palembang dan Rektor Unsri tersebut, saya teringat pada berita tentang kampung tematik di Bandung yang pada hari yang sama dikunjungi Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya dalam acara Peluncuran Program Lembur Katumbiri.

Lembur Katumbiri yang dalam bahasa Indonesia “Kampung Pelangi” adalah kampung tematik di tengah kota Bandung yang diresmikan peluncurannya oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pada 6 Mei 2025. Kehadiran kampung tematik yang berlokasi RW 12, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Sebelumnya kampung ini sempat viral pada tahun 2000 dengan nama “Kampung Pelangi 2000”. Peresmian ini menandai transformasi besar kawasan tersebut dari sekadar kampung biasa menjadi pusat seni, budaya, dan pariwisata kota.


Bima Arya saat menjabat Wali Kota Bogor meresmikan Kampung Tematik Jendela Dunia di Gang Kepatihan, Kelurahan Kebon Kelapa, dengan latar bangunan khas di Inggris. (FOTO: REPUBLIKA/ Antara)
Bima Arya saat menjabat Wali Kota Bogor meresmikan Kampung Tematik Jendela Dunia di Gang Kepatihan, Kelurahan Kebon Kelapa, dengan latar bangunan khas di Inggris. (FOTO: REPUBLIKA/ Antara)

Saat berada di Lembur Katumbiri Wamendagri Bima Arya mengatakan, “Lembur Katumbiri ini bukan sekadar program penghijauan atau kampung tematik. Ini adalah cara cerdas untuk membangun kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan komunitas. Ada nilai budaya, ada rasa memiliki, dan itu tidak bisa digantikan dengan APBD semata”.

Replikasi Program

Menurut mantan Wali Kota Bogor, Lembur Katumbiri adalah inovasi sosial berbasis budaya dan gotong royong masyarakat urban yang patut direplikasi oleh seluruh kepala daerah lain di Indonesia di wilayah mereka masing-masing.

Apakah Program Kampung Tematik yang disampaikan Wali Kota Palembang Ratu Dewa sebagai bentuk repilkasi dari kota atau daerah lain? Program pembangunan yang sama dan serupa (meniru) antar daerah/kota apakah sebuah aib? Mari lihat dengan kaca mata positif. Replikasi program pembangunan antar kota atau daerah bukanlah sebuah aib, melainkan strategi yang sering digunakan untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan efektivitas kebijakan.

Mengapa replikasi program itu penting? Jawabannya adalah efisiensi dan pembelajaran. Antar kota atau daerah dapat belajar dari keberhasilan program di tempat lain dan mengadaptasinya sesuai dengan kebutuhan lokal.

Juga untuk mempercepat pembangunan. Dengan meniru program yang sudah terbukti berhasil, daerah dapat menghindari kesalahan yang sama dan langsung menerapkan solusi yang efektif. Sekaligus ikut meningkatkan kesejahteraan, karena program yang direplikasi sering kali berfokus pada peningkatan layanan publik, seperti transportasi, kesehatan, dan pendidikan, yang berdampak positif bagi masyarakat.

Dalam replikasi itu ada inovasi berkelanjutan. Replikasi bukan sekadar meniru, tetapi juga mengembangkan dan menyesuaikan program agar lebih relevan dengan kondisi setempat.


Kampung tematik Kampung Anti Politik Uang di Pondok Aren, Tangerang Selatan. (FOTO: REPUBLIKA/ Antara)
Kampung tematik Kampung Anti Politik Uang di Pondok Aren, Tangerang Selatan. (FOTO: REPUBLIKA/ Antara)

Namun jangan lupa dengan tantangan dalam replikasi program. Diantaranya, konteks lokal yang berbeda karena tidak semua program yang berhasil di satu daerah akan sukses di daerah lain karena perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya.

Tantangan berikutnya, kapasitas dan sumber daya. Beberapa daerah mungkin memiliki keterbatasan dalam anggaran atau tenaga ahli untuk menjalankan program yang direplikasi. Kemudian tantang dalam bentuk resistensi terhadap perubahan. Kadang-kadang, masyarakat atau pemimpin daerah enggan mengadopsi program dari luar karena alasan politik atau kebiasaan.

Jadi, alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang negatif, replikasi program pembangunan justru bisa menjadi kunci percepatan pembangunan berkelanjutan jika dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Jadi pembangunan kampung tematik tetap harus diwujudkan, karena program kampung tematik ada juga di kota dan daerah lainnya yang sudah ada sejak lama.

Imbauan replikasi Program Kampung Tematik sudah disampaikan Wamendagri Bima Arya berarti Kota Palembang tinggal merealisasikannya. Bima mengajak kepala daerah lain untuk belajar dari praktik baik yang dilakukan Kota Bandung. “Tidak semua kota mampu menumbuhkan rasa memiliki di tengah masyarakat urban yang semakin majemuk dan kompleks”, ujarnya.

Menurut Wamendagri, Program Lembur Katumbiri menjadi contoh nyata dari konsep Reformasi Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif (RP2P) yang sedang digalakkan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dalam konsep RP2P, perencanaan pembangunan di suatu daerah tidak lagi bersifat top-down, melainkan hasil dialog aktif dengan masyarakat.

Lembur Katumbiri adalah inisiatif Kota Bandung yang menyulap kawasan permukiman padat menjadi ruang hidup yang bersih, sehat, warna-warni, dan berdaya. Warganya dilibatkan langsung dalam proses perencanaan, penataan, hingga pengelolaan, termasuk pengembangan UMKM, dan penguatan identitas lokal.


Ilustrasi Kamoung Tematik. (FOTO: AI @Imagen-3)
Ilustrasi Kamoung Tematik. (FOTO: AI @Imagen-3)

Apa Kampung Tematik?

Kampung tematik adalah konsep pengembangan kampung/desa yang berbasis pada kreativitas dan budaya lokal. Setiap kampung memiliki tema unik yang menjadi identitasnya, seperti seni tradisional, kuliner khas, atau kerajinan tangan. Bentuknya bisa berupa kampung dengan mural warna-warni, kampung batik, atau kampung yang mengangkat sejarah dan budaya tertentu.

Kehadiran kampung tematik akan memberik dampak positif kepada masyarakatnya. Pertama, Peningkatan Ekonomi: kampung tematik keberadaannya menarik wisatawan, yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat melalui sektor pariwisata dan UMKM.

Kedua, Pelestarian budaya: kampung tematik menjadi wadah untuk menjaga dan mengembangkan budaya lokal. Ketiga, Pemberdayaan masyarakat: Seluruh warga terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan kampung, meningkatkan rasa memiliki dan kebersamaan.

Namun untuk mewujudkan, tentu tidak akan berjalan mulus, mungkin saja akan menghdapi sejumlah tantangan. Kampung tematik akan menghadapi beberapa tantangan dalam pengembangannya. Pertama, Keberlanjutan Ekonomi: Tidak semua kampung tematik mampu mempertahankan daya tarik wisata dalam jangka panjang. Jika tidak ada inovasi atau promosi yang berkelanjutan, minat wisatawan bisa menurun.

Ketiga, Partisipasi Masyarakat: Kesadaran dan keterlibatan warga dalam mengembangkan kampungnya masih menjadi kendala. Beberapa warga mungkin kurang memahami manfaat jangka panjang dari kampung tematik. Ketiga, Dukungan Pemerintah: Tidak semua kampung mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk regulasi, pendanaan, maupun promosi.


Wali Kota Palembang Ratu Dewa (kanan) dan Rektor Unsri Taufiq Marwa (kiri). (FOTO: Dok Unsri)

Keempat, Infrastruktur dan Fasilitas: Kampung tematik sering kali berada di kawasan padat penduduk dengan infrastruktur yang terbatas, seperti akses jalan, sanitasi, dan fasilitas umum. Kelima, Dampak Sosial dan Lingkungan: Perubahan kampung menjadi destinasi wisata bisa menimbulkan masalah sosial, seperti perubahan pola hidup warga, serta dampak lingkungan akibat meningkatnya jumlah pengunjung.

Kepada Wali Kota Ratu Dewa, tidak perlu berkecil hati menghadapi tantangan tersebut. Meskipun ada tantangan, kampung tematik tetap memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik. Strategi inovatif dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta bisa menjadi kunci keberhasilan.

Strategi

Mengembangkan kampung tematik di daerah membutuhkan strategi yang matang dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, serta pihak swasta. Ada beberapa langkah langkah yang bisa dilakukan Pemerintah Kota Palembang:

1. Identifikasi Potensi Lokal – Tentukan keunikan kampung, apakah berbasis budaya, alam, kuliner, atau kerajinan tangan.

2. Libatkan Masyarakat – Pastikan warga terlibat dalam setiap tahap pengembangan, dari perencanaan hingga implementasi.

3. Bangun Infrastruktur Pendukung – Siapkan akses transportasi, listrik, internet, serta fasilitas umum yang memadai.

4. Promosi dan Branding – Gunakan media sosial, festival, dan kerja sama dengan agen wisata untuk menarik perhatian wisatawan.

5. Kemitraan dengan Pihak Luar – Jalin kerja sama dengan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk mendapatkan dukungan finansial dan teknis.

6. Evaluasi dan Inovasi Berkelanjutan – Lakukan evaluasi berkala dan terus berinovasi agar kampung tetap menarik bagi wisatawan.

Satu pesan, “Dalam membuat perencanaan kampung tematik yang sukses tidak hanya meningkatkan ekonomi lokal tetapi juga melestarikan budaya dan memperkuat komunitas”.


Kampung tematik dengan tema kesehatan di RT 01 RW 08 Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta, saat Covid 19 melanda (FOTO : REPUBLIKA/Thoudy Badai)
Kampung tematik dengan tema kesehatan di RT 01 RW 08 Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta, saat Covid 19 melanda (FOTO : REPUBLIKA/Thoudy Badai)

Replikasi pada Program Lembur Katumbiri Kota Bandung untuk merealisasikan kampung di Palembang bisa diterapkan. Lembur Katumbiri sebagai kampung tematik penuh warna yang tengah viral adakah instalasi mural warna-warni yang tertuang di dinding-dinding rumah warga. Ini merupakan hasil karya seni rupa dari John Martono dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Ini bukti bahwa kampus atau perguruan tinggi terlibat dalam mewujudkan kampung tematik.

John Martono bercita- cita membuat Lembur Katumbiri sejak tahun 2018. Ide itu awalnya ia realisasikan dalam secara digital, tujuh tahun kemudian bisa terwujudkan. Karya mural di Lembur Katumbiri bisa terwujud berkat hasil kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung hingga masyarakat sekitar.

Proses pengerjaan mural butuh waktu 17 hari dengan melibatkan sekitar 200 orang pekerja dari berbagai elemen masyarakat. Menurut John Martono yang kerap disapan Captain John, kolaborasi ini menjadi bukti bahwa karya seni dapat tumbuh dari semangat gotong royong, serta dukungan kolektif warga sekitar dalam mewujudkan ruang tematik yang inspiratif.

Sebanyak 347 rumah telah direvitalisasi, dicat ulang menggunakan cat yang habis sebanyak 504 galon cat, dikerjakan oleh lebih dari 150 pekerja lapangan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari warga, seniman, hingga komunitas pecinta lingkungan. Total anggaran mencapai Rp190 juta.

Kini warna-warna cerah di dinding rumah warga bukan sekadar estetika, melainkan simbol transformasi dan harapan baru. “Lembur Katumbiri adalah bukti pembangunan tak lagi sekadar soal jalan dan bangunan. Tapi juga tentang seni, budaya dan kebersamaan”, kata Wali Kota yang pernah menjadi penyiar radio, presenter televisi, serta eksekutif olahraga.

Ada beberapa kampung tematik sukses di Indonesia. Kampung Batik Kauman, Pekalongan yang mengangkat batik sebagai tema utama, wisatawan bisa melihat proses pembuatan batik dan belajar membatik langsung dari pengrajin.


Ilustrasi menyambut kampung tematik Palembang. (FOTO: AI @ChatGPT)
Ilustrasi menyambut kampung tematik Palembang. (FOTO: AI @ChatGPT)

Di Sumsel pernah ada Kampung Warna Warni Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Kampung tematik dihiasi mural warna-warni dan gambar ilusi optik, terletak di Kelurahan Linggau Ulu dan Kelurahan Ulak Surung, Kota Lubuklinggau ini sempat viral dan mengundang wisatawan lokal dan luar negeri, kini tinggal cerita dan tidak terawat.

Di Malang ada Kampung Heritage Kayutangan yang mengusung konsep sejarah dengan bangunan-bangunan kuno yang masih terawat. Masih di Malang, Jawa Timur ada Kampung Warna-Warni Jodipan, telah menjadi contoh nyata bagaimana kawasan yang dulunya kumuh dapat bertransformasi menjadi destinasi wisata yang menarik dan berdampak positif pada ekonomi serta citra masyarakatnya.

Ada Kampoeng Djadhoel di Semarang Mural bertema sejarah dan budaya Indonesia dengan daya tarik edukasi sejarah, pelatihan membatik dan melukis. Di Bogor ada Gang Kepatihan dengan tematik lukisan rumah-rumah tua ala Jepang dan London dengan daya tarik nuansa Jepang dan Eropa, cocok untuk fotografi.

Di luar negeri, di Eropa banyak kota tematik, seperti Colmar di Prancis, kota ini terkenal dengan arsitektur khas Alsace yang mirip dengan desa-desa di negeri dongeng. Kota Giethoorn di Belanda dijuluki “Venesia Belanda” karena tidak memiliki jalan raya, hanya kanal dan perahu sebagai transportasi utama. Di Italia ada Kota Cinque Terre dengan lima desa berwarna-warni di tebing pantai Liguria yang menjadi destinasi wisata populer.

Di Amerika Serikat ada Leavenworth, Washington, kota dengan tema Bavaria yang menghadirkan suasana khas Jerman. Di New Orleans, Louisiana ada French Quarter di kota ini memiliki nuansa arsitektur Prancis dan Spanyol. Holland di Michigan adalah Kota dengan nuansa Belanda, lengkap dengan kincir angin dan festival tulip.

Kota-kota ini menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan dan sering kali menjadi daya tarik utama di negara masing-masing. Jadi kampung tematik, desa tematik atau kota tematik adalah inovasi luar biasa yang menggabungkan ekonomi, budaya, dan kreativitas.

Selamat datang Kampung Tematik Palembang. (maspril aries)

Tagged: