Ilustrasi Menulis. (FOTO: Pixabay.com)
KINGDOMSRIWIJAYA – Dalam sebuah bincang-bincang tentang gaya hidup sehat dan penyembuhan dengan terapi mencuat pertanyaan, “Dapatkah menulis menjadi terapi penyembuhan bagi pasien?” Maka jawabannya jelas, “Dapat, karena ada banyak penelitian yang menjelaskan tentang menulis sebagai terapi penyembuhan bagi mereka yang tengah sakit”.
Sebelum ilmu pengetahuan dan penelitian berkembang pesat, menulis hanya dianggap sebagai alat ekspresi diri, cara seseorang untuk menuangkan pikiran, perasaan, ide, dan pengalaman mereka ke dalam bentuk kata-kata. Namun kemudian banyak penelitian yang menyebutkan bahwa menulis tidak hanya berguna sebagai alat ekspresi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai bentuk terapi yang efektif.
Terapi menulis, atau yang sering disebut sebagai penulisan ekspresif atau terapi penulisan, adalah pendekatan terapeutik yang melibatkan kegiatan menulis untuk membantu individu mengatasi masalah emosional dan psikologis. Apa itu terapeutik? “Terapeutik” adalah istilah yang berhubungan dengan pengobatan atau terapi, yaitu tindakan atau proses yang bertujuan untuk menyembuhkan, meredakan, atau mengurangi gejala penyakit atau kondisi tertentu. Terapi bisa berupa metode medis, psikologis, atau alternatif yang digunakan untuk memperbaiki kesehatan fisik dan mental seseorang.
Adalah James W. Pennebaker, seorang psikolog di University of Texas ilmuwan pelopor dalam penelitian terapi menulis. Pennebaker mengembangkan konsep penyembuhan melalui narasi, yang mengusulkan bahwa menulis tentang pengalaman traumatis dapat membantu individu mengatasi trauma dan meningkatkan kesehatan mental.
Menurutnya, menulis ekspresif memungkinkan individu untuk menyusun ulang pengalaman mereka, membangun makna baru, dan memproses emosi yang terkait dengan trauma. Penelitian Pennebaker tahun 1997 menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman traumatis selama 15 menit setiap hari selama empat hari berturut-turut dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa menulis ekspresif dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, menunjukkan bahwa menulis tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan mental tetapi juga kesehatan fisik. “Menulis ekspresif adalah cara yang kuat untuk mengeluarkan perasaan yang terpendam dan memperoleh perspektif baru”, kata Pennebaker.

Kemudian writing therapy sebagai salah satu metode terapi yang semakin dikenal luas dalam dunia medis. Writing therapy atau terapi menulis ini melibatkan kegiatan menulis untuk membantu individu mengeksplorasi emosi mereka, memproses pengalaman hidup, dan menemukan makna dalam situasi sulit.
Teori ini kemudian dikenal sebagai Pennebaker Writing Paradigm, yang menyatakan bahwa menulis tentang trauma atau pengalaman emosional dapat membantu individu mengorganisasi pikiran mereka, memberikan makna pada pengalaman, dan mengurangi tekanan psikologis.
Pakar lainnya adalah Joshua M. Smyth, yang dalam studinya bahwa, pasien dengan asma dan artritis yang terlibat dalam terapi menulis menunjukkan peningkatan kesehatan fisik dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya menulis tentang topik netral.
Ini beberapa pendapat para ahli dan pakar tentang terapi menulis. 1. James W. Pennebaker: “Menulis ekspresif memungkinkan seseorang untuk memahami pengalaman mereka secara lebih mendalam. Menulis ekspresif adalah cara yang kuat untuk mengeluarkan perasaan yang terpendam dan memperoleh perspektif baru. Ini bukan hanya tentang menuliskan apa yang terjadi, tetapi juga memahami emosi yang terlibat”.
2. Julia Cameron penulis buku The Artist’s Way bahwa: “Menulis pagi hari (morning pages) adalah alat untuk melepaskan beban pikiran dan membuka jalan menuju kreativitas”. 3. Ira Progoff pendiri Intensive Journal Method bahwa: “Jurnal pribadi adalah alat penting untuk pertumbuhan pribadi dan eksplorasi jiwa”. 4. Natalie Goldberg dalam bukunya Writing Down the Bones: “Menekankan pentingnya menulis sebagai bentuk meditasi untuk mengenal diri sendiri dan merangkul emosi”.
Menulis ekspresif adalah sebuah proses terapi dengan menggunakan metode menulis ekspresif tentang pengalaman emosional yang pernah seorang yang tengah menjalani terapi penyembuhan dari sakitnya. Menulis dapat dikatakan sebagai bentuk terapi yang menggunakan teknik sederhana, murah dan tidak membutuhkan umpan balik. Terapi menulis pengalaman emosional atau menulis ekspresif diartikan sebagai suatu terapi dengan aktivitas menulis mengenai pikiran dan perasaan yang mendalam terhadap apa yang dirasakan, dipikirkan dan dialami.

Menulis Sulit
Penulis novel top Indonesia Arswendo Atmowiloto (almarhum) pernah menulis buku berjudul Mengarang Itu Gampang, faktanya tetap saja ada banyak orang tidak bisa menulis puisi, menulis prosa, menulis esai, menulis makalah, atau menulis opini. Jika demikian, menulis itu tidak gampang.
Menurut Berlin Sibarani dalam “Penerapan Proses Kognitif dan Terapi Cognitive Blocking Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menulis” (2007), menulis adalah proses kognitif yang sangat rumit. Kegiatan ini satu tingkat lebih sulit di atas kegiatan membaca pemahaman. Orang yang mampu membaca dengan baik belum tentu dapat menulis dengan baik, meski sesungguhnya, kemampuan membaca merupakan salah satu faktor penentu menjadi penulis yang baik.
Jika kondisi seseorang yang akan menjalani terapi seperti itu, bagaimana terapi menulis bisa diterapkan? Jawabnya, meski efektif, terapi menulis bukan solusi untuk semua orang. Beberapa individu mungkin merasa sulit mengekspresikan diri melalui tulisan, terutama jika mereka tidak terbiasa menulis atau memiliki trauma yang sangat mendalam. Dalam kasus seperti itu, bimbingan dari terapis profesional sangat diperlukan.
Terapi menulis telah ditemukan efektif dalam mengatasi berbagai kondisi mental dan fisik. Berikut beberapa penyakit dan kondisi yang dapat diobati dengan terapi menulis, yaitu depresi, kecemasan, trauma, penyakit kronis, stres, masalah relasi, gangguan tidur, kehilangan dan kesedihan.
Orang yang dilanda depresi dengan menulis ekspresif dapat membantu individu untuk mengeksplorasi dan memahami perasaan mereka, mengurangi gejala depresi, dan meningkatkan suasana hati. Mereka yang dilanda kecemasan dengan menulis tentang perasaan dan kekhawatiran dapat membantu individu dengan kecemasan untuk mengelola dan mengurangi gejala kecemasan.
Kepada orang yang dihinggapi trauma maka terapi menulis dapat membantu individu yang mengalami trauma untuk memproses pengalaman mereka dan mengurangi gejala PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Mereka yang menderita penyakit kronis dengan menulis tentang pengalaman hidup dengan penyakit kronis dapat membantu individu untuk mengatasi rasa sakit, stres, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Menurut Andi Hadratul Ainiyu, Sitti Murdiana, dan Ahmad dalam “Pengaruh Menulis Ekspresif dalam Menurunkan Stres pada Wanita Penderita Penyakit Lupus” (2020), stres yang dialami wanita penderita penyakit lupus akan dapat membuat penyakit yang diderita menjadi lebih parah dan dengan menulis ekpresif penderita penyakit lupus dapat mengeluarkan pikiran dan perasaan yang membuat tertekan, sehingga tingkat stres dapat menurun
Kemudian menurut Kadek Dwi Jayanti dalam “Literature Review: Efek Menulis Ekspresif Terhadap Pasien Kanker” (2024), temuan dari artikel jurnal terkait efek menulis ekspresif terhadap pasien kanker memberikan manfaat terhadap pasien kanker. Menulis ekspresif pada pasien kanker menjadi langkah kuratif dalam menangani permasalahan yang dialami oleh individu di tengah permasalahan penyakit kanker yang dihadapinya.
Berikutnya pada orang yang tengah dilanda stres dengan menulis tentang situasi yang menimbulkan stres dapat membantu individu untuk mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Demikian pula terhadap mereka yang tengah bermasalah dalam hubungan hubungan interpersonal atau relasi, maka menulis tentang konflik dan hubungan interpersonal dapat membantu individu untuk mendapatkan perspektif baru dan mengatasi masalah relasi.
Bagaimana menulis bekerja sebagai terapi? Pertama, menulis itu mengorganisasi pikiran, dengan menulis memungkinkan seseorang menuangkan pikiran yang kacau menjadi bentuk yang lebih terstruktur. Proses ini membantu mereka memahami apa yang terjadi dalam hidup mereka, serta memberikan jarak emosional dari pengalaman tersebut.
Kedua, adalah ekspresi bebas tanpa penilaian. Dalam menulis pribadi, tidak ada tekanan dari dunia luar. Ini memungkinkan seseorang mengekspresikan perasaan terdalam mereka tanpa takut dihakimi, sehingga dapat membuka jalan untuk pemulihan. Ketiga, sebagai pelepasan emosi negatif. Menulis dapat bertindak sebagai katarsis emosional, di mana perasaan negatif seperti marah, sedih, atau cemas dilepaskan melalui kata-kata.

Keempat, dapat memperkuat fungsi kognitif. Menulis itu melibatkan penggunaan berbagai fungsi otak, seperti memori, analisis, dan kreativitas. Aktivitas ini memperkuat koneksi antara emosi dan rasionalitas, sehingga membantu individu menemukan solusi untuk masalah mereka.
Terapi Puisi
Ada beberapa bentuk terapi menulis yang biasa diterapkan. Seperti, terapi menulis jurnal harian sebagai cara sederhana untuk memulai terapi menulis. Ini membantu individu melacak perkembangan emosi mereka dan mengevaluasi pengalaman sehari-hari. Terapi dengan menulis surat yang tidak dikirim. Metode ini melibatkan menulis surat kepada seseorang yang pernah menyakiti atau menjadi bagian penting dari pengalaman traumatis. Surat ini tidak perlu dikirim, tetapi bertujuan untuk melepaskan emosi terpendam.
Ada juga bentuk terapi menulis karya sastra, yaitu menulis puisi terapi atau menulis cerita pendek (cerpen). Terapi dalam bentuk puisi terapi, dengan menulis puisi memungkinkan ekspresi emosional yang lebih dalam dan kreatif. Dalam terapi ini, orang tersebut diminta menulis tentang perasaan mereka dalam bentuk metafora atau simbol. Menulis cerpen atau narasi pribadi yang akan membantu orang atau individu menceritakan pengalaman mereka sebagai bagian dari proses pemulihan.
Terapi Puisi atau biblioterapi puisi adalah penggunaan puisi sebagai alat penyembuhan mental dan spiritual. Menerjemahkan emosi dalam bentuk kata-kata memberikan ruang untuk mengekspresikan diri, yang berguna untuk menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental.
Terapi puisi juga dapat diterapkan pada pasien yang terkena gangguan memori, seperti pasien demensia, penyakit alzheimer, atau stres berkepanjangan, dapat menyebabkan gangguan memori. Perawatan memori sering kali melibatkan teknik yang membantu otak untuk tetap aktif, salah satunya adalah terapi berbasis seni seperti puisi.
Terapi puisi untuk mengatasi gangguan memori dapat dilakukan dengan pembacaan dan penulisan puisi. Proses ini membantu melibatkan area kognitif di otak, yang berperan penting dalam memori dan asosiasi kata. Irama, rima, dan ritme dalam puisi menciptakan pola yang memudahkan otak untuk mengingat dan memahami makna kata-kata.

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang aktif membaca atau menulis puisi menunjukkan pemulihan kognitif yang lebih baik dan keterampilan mengingat yang lebih kuat. Puisi memungkinkan otak berfungsi dengan pola yang berbeda dari kegiatan sehari-hari.
Terapi puisi diterapkan dengan membaca puisi sederhana secara rutin, menulis puisi harian atau mingguan sebagai latihan mental dan mendiskusikan makna puisi bersama kelompok pendukung atau keluarga.
Bagaimana mekanisme terapi puisi dalam mendukung fungsi memori? Berdasarkan penelitian, efek rima dalam puisi bertindak sebagai “jembatan ingatan” yang memungkinkan otak mengingat kata-kata lebih mudah. Efek ritme juga menciptakan pola yang mudah diingat, membantu dalam latihan ingatan.
Kemudian visualisasi dan metafora yang kuat dalam puisi yang berperan sebagai asosiasi memori. Imajinasi ini mengaktifkan neuron yang memperkuat ingatan melalui gambar yang dihasilkan dari puisi. Puisi juga sebagai stimulasi kognitif. Saat seseorang mengartikan puisi, proses berpikir abstrak bekerja lebih intens. Puisi sering kali ambigu atau berlapis makna, yang memerlukan pemikiran kritis dan aktivasi otak yang dalam.
Silahkan mencoba menulis puisi sebagai terapi pribadi. Menulis puisi memungkinkan individu atau pasien untuk mengekspresikan perasaan terdalam tanpa khawatir dihakimi. Ini adalah ruang bebas untuk mencurahkan emosi yang bisa menjadi media penyembuhan.
Terapkan juga dengan membaca puisi inspirasional karya penyair ternama yang mengangkat tema cinta, kedamaian, dan keseimbangan hidup bisa menjadi alat inspirasi harian yang membangun semangat positif.
Jika ada grup terapi puisi silahkan bergabung, karena dalam kelompok terapi puisi atau klub puisi dapat membantu seseorang belajar dari pengalaman orang lain. Diskusi tentang puisi yang menggugah perasaan membantu proses penyembuhan.
Jika puisi yang ditulis selama menjalani terapi cukup banyak bisa didokummentasikan menjadi sebuah buku menjadi antologi pribadi. Menyusun dan menerbitkan buku kumpulan puisi atau antologi puisi dapat menjadi koleksi penyembuhan yang mencakup pengalaman, kenangan, atau pencapaian spiritual pribadi.
Apakah mereka yang sehat atau merasa sehat bisa menerapkan terapi menulis (puisi)? Silakan dicoba. (maspril aries)






